• Home
  • About
  • Contact
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram Email

Curlnology

Saya mau cerita tentang acara jalan-jalan saya Desember silam ke sebuah tempat wisata yang baru dibuka. Lokasinya kalau bisa dibilang masih nyerempet dikit dari Setiabudi tapi udah ke arah Lembang gitu. Namanya Farmhouse Lembang.

Saya penasaran soalnya waktu itu sering banget liat di Instagram. Tempatnya lucu, ibarat kata zaman sekarang mah tempatnya instagramable banget. Karena semakin penasaran dan pengen jalan-jalan juga (mumpung dapet pinjeman motor), akhirnya saya berangkat bareng Petek.

Waktu itu saya berangkat tanggal 22 Desember 2015, hari Selasa. Weekday tuh jatuhnya, ngarep-ngarepnya sih nggak bakal sepadat pas weekend. Sebelum berangkat saya berusaha untuk optimis tempatnya bakal sepi pengunjung. Tapi saya juga baru ngeh kalau itu udah mau akhir tahun dan mendekati libur Natal dan Tahun Baru. Tapi ya namanya udah pengen jalan-jalan, liat situasi di tempat deh.

Di jalan menuju Farmhouse, terbukti kita mulai tersendat di depan kampus UPI. Untungnya bawa motor bisa nyelip, tapi tangan kiri pegelnya ampun-ampunan karena bawa motor Vixion yang notabene pakai kopling. Sempet lewat jalan pintas, akhirnya kita nyampe di deket Farmhouse. Oke, padat banget yang mau ke arah Lembang. Saya sempet sengaja ngelewatin Farmhouse karena jalur untuk masuk ditutupi semacam tali pembatas gitu, karena posisi dari sebelah kiri dan Farmhouse berada di sisi kanan dari arah Setiabudi. Eh pas muter balik, tetiba udah dibuka lagi. Masuklah kami ke dalam area Farmhouse.

Untuk tiket masuk, dikenakan 20 ribu Rupiah per orangnya. Tapi tiket masuk ini bisa ditukar sama susu murni rasa vanilla atau stroberi lho. Lumayan kan sambil jalan-jalan di dalam, saya bisa sembari minum susu murni. Rasanya enak lho yang stroberi.



Areanya ternyata nggak begitu besar. Lalu prediksi saya ternyata salah total. Tempatnya... rame banget. Parah sih ramenya, celah buat jalan aja kecil banget. Oh iya, untuk masuk ke area Farmhouse setelah ambil susu murni, ada flow-nya. Pertama kita bakal ngelewatin lorong yang diarahin ke sebuah rumah besar. Rumah itu isinya berbagai macam pernak-pernik, pakaian, asesoris, dan lainnya bagi yang mau berbelanja. Toko roti juga ada di dalam rumah. 





Setelah itu, kami keluar dan barulah melihat area rumah-rumah bergaya Eropa. The European vibe is so strong in this place.




Pastinya di depan rumah-rumah itu cocok banget buat berfoto. Sepengamatan saya, di sana rumah-rumahnya berisi restoran dan cafe. Ada juga rumah yang jadi tempat sewa baju ala Eropa, lebih tepatnya di lantai 2. Jadi bagi yang mau sewa baju, coba naik ke lantai atas cafe yang tembok bangunannya dari bebatuan.





Setelah itu, di area belakang saya menjumpai sebuah lapangan hijau yang cukup besar. Di sana dipajang beberapa sepeda sebagai properti yang bisa dipakai kalau mau berfoto ria. Nah di spot ini juga oke untuk foto, khususnya dengan latar rumah Eropa dari kejauhan. Asli, kesannya memang nggak seperti di Bandung lho. Nuansa Eropanya juga terasa banget di sini. Selain lapangan, kalau mau duduk-duduk lucu bisa juga menempati bangku taman yang tersedia di sekeliling lapangan.



Nah setelah puas-puasin motret di lapangan ini, saya dan Petek melanjutkan tur mini di Farmhouse. Kami berjalan turun dari lokasi sebelumnya, lalu menemui area small zoo dan miniatur rumah Hobbit. Small zoo ini memelihara kelinci, aneka burung, kuda poni, domba, sampai reptil. Anak-anak pastinya senang kalau dibawa ke sini.




Lalu yang jadi spot favorit para pengunjung adalah miniatur rumah Hobbit. Kelihatannya memang mirip kok, apalagi pintu bulat khasnya. Untuk foto di depan rumah ini, orang-orang sampe ngantri lho.




Setelah puas keliling, saya dan Petek berjalan keluar melewati rumah yang pertama dilewati. Kami baru sadar kalau sebelum rumah itu, ada rumah kecil di sisi kiri yang ternyata jadi jalur menuju taman lainnya. Rumah kecil itu menjual aneka pernak-pernik, khususnya gembok kecil. Nah gembok ini kebanyakan dibeli untuk dipasang di sebuah jembatan nggak jauh dari tempat itu. Bagi para pasangan pastinya gatel pengen beli dan pasang gembok yang sudah diberi nama masing-masing.

Di sana juga cocok untuk foto-foto, namun areanya lebih kecil dan jalannya lebih sempit. Untuk bisa foto-foto di atas jembatan, seenggaknya 2 sampai 3 pengunjung bisa berdiri di sana dan harus bergantian.



So far jalan-jalan di Farmhouse cukup menyenangkan. Berhubung padat dan kecil tempatnya, jadi memang ruang gerak sedikit terbatas kalau lagi ramai. Tapi untuk konsep bisa dibilang oke, karena suasana Eropanya berasa banget. Kalau mau main ke sini, pastinya akan lebih santai kalau datang saat weekday. Farmhouse juga lumayan dekat dari Setiabudi jadi kalau ingin tempat wisata yang nggak begitu jauh, ini bisa jadi solusinya.

So, selamat liburan dan selamat jalan-jalan!
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Nggak kerasa ya beberapa minggu lalu sudah lewat aja tanggal 1 Januari. Makin ke sini kok rasanya pergantian tahun itu makin cepet ya? Hahaha. Tapi yang penting sih sebenarnya dari tahun-tahun yang sudah lewat dan akan datang, perlu ada introspeksi apakah target atau tujuan kita yang sudah direncanakan bisa berhasil terwujud atau nggak. Nah di tahun 2016 ini, ada semakin banyak goals yang ingin saya capai. Tapi goals yang sudah saya rancang ini sebenarnya memiliki satu tema besar, yaitu "time to upgrade". 

Bertambahnya tahun, bertambahnya usia, bertambah pula tanggung jawab yang saya pikul. Di awal tahun ini saya menargetkan bisa lulus sidang skripsi (AMIN!). Nah, setelah lulus nanti saya ingin fokus meng-upgrade diri saya; makin mandiri, menambah skill fotografi dan menulis, memperbaiki penampilan, memperbanyak olahraga, dan memperbaharui beberapa items yang saya miliki.

Berkaitan dengan items yang saya miliki, ada yang perlu ditambah nih, terutama yang berhubungan dengan hobi saya. Hobi utama saya antara lain memotret, menulis blog, dan jalan-jalan. Saya merasa sudah saatnya di tahun ini saya bisa memperbaharui apa yang sudah saya miliki sebelumnya. Saya pun sudah memiliki satu list berupa top 5 items yang bisa menunjang produktivitas saya.

Zaman serba online begini pastinya semakin mempermudah saya untuk melihat-lihat barang yang diinginkan di website-website tertentu. Ibaratnya kalau di dunia nyata itu seperti window shopping, hehehe. Nah salah satu website e-commerce yang sering saya kunjungi untuk melihat barang yang diinginkan serta memantau harganya ialah Lazada.co.id. 


Website ini menjadi tujuan untuk belanja online karena buanyak banget pilihan-pilihannya. Mulai dari barang-barang elektronik, parfum, sampai peralatan rumah tangga bisa ditemukan di sini. Sebelumnya saya sudah pernah berbelanja monopod dan lensa fish-eye di Lazada. Dari layanan hingga barang dikirim saya bisa katakan oke, jadi sudah terpercaya dan nggak perlu khawatir bakal terjadi macam-macam.

Sesuai dengan judul, ada top 5 items incaran saya nih yang bisa diperoleh di Lazada. Nah, apa aja sih top 5 items yang saya ingin peroleh dari Lazada Indonesia?

1. Sony Alpha A6000 16-50 mm (Black)


Setiap jalan-jalan atau di waktu senggang saya suka banget motret apa yang ada di sekeliling saya. Sebenarnya saya lagi mempelajari yang namanya street photography. Nah memotret di jalan atau di lingkungan tertentu itu bukan perkara mudah. Ada aja orang yang marah karena nggak suka difoto, bahkan ketika melihat kamera DSLR suka disangka wartawan. Memotret dengan DSLR sangat menarik perhatian orang sekitar. Ini saya alami beneran lho. Jadinya saya agak kesulitan untuk menenteng DSLR kemana-mana karena sangat mencolok tampilannya.

Kemudian hadirlah kamera mirrorless di pasaran. Menurut saya, bentuknya yang ringkas, kecil, dan body-nya nggak mencolok cocok banget digunakan untuk street photography. Kamera mirrorless yang satu ini sebenarnya sudah lama jadi incaran saya. Saya pernah nyoba dan langsung kepincut! Kamera 24.3 MegaPixel dengan sensor APS-C Exmor APS HD CMOS dan prosesor gambar BIONZ X ini menawarkan kualitas gambar yang juara. Lalu sensitivitas ISO-nya mencapai hingga 25600, tentu kamera ini tergolong optimal bila digunakan pada kondisi cahaya redup.

Kemudahan yang bisa saya peroleh dari kamera ini juga adalah hasilnya yang bisa dikirim dengan mudah ke smartphone yang saya miliki. Hanya dengan menggunakan aplikasi Play Memories Mobile (harus ter-install di smartphone-nya juga ya), saya bisa menransfer foto dari kamera mirrorless ini ke smartphone saya dalam sekejap. Nah karena itulah, Sony Alpha A6000 jelas masuk dalam jajaran top 5 items karena saya bisa lebih leluasa memotret di jalanan dan hasilnya mudah dikirim ke smartphone saya. Foto pun bisa langsung di-update di Instagram bila perlu, hahaha.

2. Takara Tripod Eco-193a (Black)


Sudah beberapa bulan ini saya lagi giat jalan-jalan, misalnya beberapa bulan lalu saya ke Singapura dan Pulau Bali. Kalau jalan-jalan saya lebih suka nggak bergerombol; waktu itu saya cuma pergi bersama ibu (saat ke Singapura) dan seorang kawan saya (saat ke Bali). Nah terkadang suka kesulitan sendiri kalau kami mau foto bareng, karena mau minta tolong sama siapa? Kalau lagi ada orang lalu lalang sih bisa aja. Kalau lagi nggak ada orang dan nggak ada tempat untuk meletakkan kamera, susah juga kalau mau foto berdua.

Selain itu, saat di Bali saya ingin banget memotret langit malamnya yang bertabur bintang. Lagi-lagi saya kesulitan karena memotretnya di pantai dan nggak ada tempat yang bisa dijadikan tumpuan untuk meletakkan kamera saya. Untuk memotret langit berbintang secara maksimal itu harus long exposure; shutter speed sangat lambat (bahkan dalam hitungan detik) dan kamera harus bener-bener stabil, nggak boleh goyang sama sekali. Alhasil waktu itu ditaruh di atas pasir dan diganjel pakai sendal supaya nggak goyang. Repot 'kan jadinya? Maka dari itu, saya butuh tripod yang ringan, compact, dan nggak ribet saat dipakai/dilipat. Tentunya saya akan sangat terbantu dengan adanya tripod yang ringan dan nggak ribet sehingga bisa saya bawa kemana-mana dengan mudah.

Saya memilih tripod dari Takara ini karena ringkas, lightweight, tetapi tetap kokoh dan stabil saat digunakan. Harganya pun tergolong murah lho di situs Lazada Indonesia karena mendapat diskon, jadi saya bisa mendapatkan tripod ini dengan harga Rp149.000,-.

3. ASUS Zenpad 8.0" 16 GB (Black)


Karena temanya "upgrade", saya ingin meng-upgrade frekuensi saya menulis di blog ini. Salah satu resolusi saya di tahun ini adalah saya ingin makin giat menulis di blog, diusahakan sebulan bisa menulis dua sampai lima tulisan. Kebetulan saya sering mendapat ide menulis saat sedang berpergian, jadinya harus disimpan dulu di pikiran dan barulah saat sampai di rumah atau di kostan saya tulis di laptop. Tapi cara itu sebenarnya nggak efektif, karena saya udah keburu lupa dan nggak mood mau nulis apa, hahaha. Saya juga nggak tiap hari bawa laptop saat berpergian karena berat banget. Kalau ngetik panjang di smartphone, aduh itu paling nggak nyaman karena size-nya kecil dan bikin mata saya jadi siwer.

Berhubung saya udah ngerasain gimana bandel dan awetnya si laptop, saya pun melirik versi tablet-nya dari ASUS, yakni ASUS Zenpad 8.0" 16GB. Kalau pakai tablet tentu akan lebih mudah saat perlu mengetik panjang. Saya juga nggak perlu berat-berat bawa laptop karena fungsi laptop bisa digantikan oleh tablet saat berada di luar rumah atau kostan. Kalau saya traveling ke luar kota dan ingin nulis cerita perjalanan saya, nggak perlu lagi nunggu sampai pulang. Ukuran layarnya juga pas, nggak begitu kecil dan nggak kebesaran juga. Jadi saya nggak boleh bikin alasan lagi seperti, "Ah entar aja di laptop nulisnya!" lagi deh. Ide yang muncul di pikiran pun bisa langsung ditulis di tablet ini.


4. Lowepro Photo Runner 100


Tas kamera ini termasuk dalam top 5 items saya karena modelnya yang simple dan nggak bulky. Soal kebutuhan tas kamera saya sebenarnya nggak rewel banget, yang penting gampang dibuka saat saya lagi buru-buru mau pakai kamera. Tas ini cukup memuat 1 DSLR dan 1 lensa. Karena bentuknya lebih condong memanjang ke samping, tas ini cenderung nggak gampang kesenggol orang. Biasanya kalau saya pakai tas kamera yang saya punya, setiap lagi motret lalu ada orang yang lewat, pasti deh tas saya kesenggol dan itu nggak enak banget rasanya.


5. Carolina Herrera 212 Women Eau De Toilette 100 mL 


Ini nih parfum yang jadi incaran saya juga. Sewaktu saya di lagi di Singapura, saya naksir banget sama wanginya, tapi sayang banget nggak kesampaian untuk beli. Jarang-jarang saya suka parfum yang top notes-nya itu floral; biasanya saya suka citrus atau agak musky. Kalau berdasarkan deskripsi yang saya baca di fragantica.com, top notes-nya adalah orange blossom, bergamot, dan mandarin. Kemudian heart notes-nya  floral, yang terdiri dari camellia, gardenia, dan lily. Lalu base-nya antara lain sandalwood dan bright musk. Menurut saya parfum ini wanginya seger banget. Berhubung agak susah nyarinya di offline store (dan nyari harga yang lebih miring tentunya), saya cukup surprised karena ada yang jual di Lazada. Otomatis parfum ini masuk ke dalam top 5 items saya!

Itu dia top 5 items saya yang ingin dibeli di Lazada. Semoga kalau ada rezekinya bisa kesampaian untuk memiliki semua barang dari list di atas serta meng-upgrade apa yang sudah saya miliki sebelumnya. Also wish me luck to win the Rp 325.000 voucher from ShopCoupons X Lazada Indonesia! 

See you on the other posts and have a pleasant day, fellas!


Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X Lazada Indonesia. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. Voucher Lazada disponsori oleh Lazada Indonesia.
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments

Untuk menjaga kesehatan rambut secara tepat memang perlu eksplorasi dan sangat bergantung pada tipe rambut. Dari dulu sampai sekarang saya masih mencari cara yang paling pas untuk merawat rambut supaya tetap sehat, nggak kusut, dan nggak kering. Pasalnya kalau udah kusut, saya udah kayak singa nggak sisiran beberapa minggu. Salah pilih produk juga bisa bikin rambut saya makin parah keringnya dan bahkan muncul objek-objek yang nggak diinginkan, kayak ketombe.

Di post sebelumnya, saya sudah menulis tentang cara-cara yang biasa saya lakukan untuk merawat rambut saya. Nah kali ini saya mau membagi apa saja produk yang dipakai, khususnya untuk rambut keriting yang sangat kering dan sudah diwarnai berkali-kali.

Rambut yang diwarnai otomatis jadi lebih rapuh, kering, dan mudah bercabang. Untuk mengurangi rambut bercabang, setiap habis mewarnai rambut atau tiga bulan sekali saya pergi ke salon untuk potong rambut. Alhamdulillah sampai saat ini saya sudah terhindar dari masalah rambut bercabang dan rapuh. Permasalahan utama saya saat ini adalah rambut kering, megar, dan kusut.


Berdasarkan pengalaman pribadi, ini dia produk-produk yang saya gunakan untuk merawat rambut keriting yang sudah diwarnai. Produk yang ditulis benar-benar sudah saya pakai dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan sehingga efeknya sudah saya bisa rasakan secara langsung.

Shampoo and Conditioner
Mane 'n Tail Herbal Gro Shampoo
[Alternative: Herbal Essence Hello Hydration (Moisture and Shine)]
Nggak gampang untuk mencari shampoo dan conditioner yang pas buat rambut saya. Kebanyakan bikin ketombean dan makin parah keringnya. Tahun lalu saya sempet potong rambut kependekan dan denger-denger kalau Mane 'n Tail itu bisa membantu mempercepat pertumbuhan rambut. Jadinya saya pakai deh, sekalian nyoba. Harganya memang menguras dompet, tapi menurut saya worth it banget. Lumayan membantu pertumbuhan rambut, lalu kondisi rambut saya lebih baik dan nggak sekering biasanya. Untuk conditioner, saya pakai conditioner-nya Herbal Essence. Barulah saat shampoo Mane 'n Tail habis, saya pakai shampoo-nya Herbal Essence. Efeknya? Saya merasa rambut lebih lembab, nggak begitu kering, dan lebih mudah diatur.

Hair Vitamin
Lucido-L for Damaged Hair (Spray and Oil)
Saya pakai kedua versinya, yaitu spray dan oil. Versi oil saya pakai setiap habis keramas dan rambut dalam kondisi setengah basah. Lalu versi spray saya pakai setiap hari, baik saat mau pergi atau pun stay di kostan. Ini sangat membantu merawat rambut saya yang diwarnai supaya nggak bercabang, kusam, dan kering parah. Makanya saya berani bleach rambut karena sudah memproteksinya dengan hair vitamin sejak lama, jadi efek bleach-nya nggak begitu parah.

Other Hair Spray
Makarizo Hair Energy SCENTSATIONS
Yang namanya bau nggak bisa dihindari ya, apalagi kalau sering berpergian. Bau segala macem kayak asap knalpot, asap tukang sate, dan kerabatnya bisa terperangkap di rambut. Apalagi kalau rambut keriting, aduh bener deh segala macam bau langsung diserap dan hilangnya pun cukup lama. Makanya saya butuh hair spray yang bisa menghilangkan bau seketika. Kalau lupa keramas juga bisa diakalin pakai ini kok (yikes!), hahaha.

Hair Cream or Mousse
SYOSS Airy Curl Cream (Curl Control)
Produk ini penting untuk menjaga bentuk keriting dan mencegah rambut jadi megar. Saya pakai ini karena dari beberapa produk lainnya, ini yang nggak begitu lengket dan nggak berasa berat di rambut. Jadi setelah pakai vitamin oil, saya pakai cream ini biar bentuk keriting bisa terjaga seharian. Tapi saya punya cara sendiri untuk menggunakan cream ini agar nggak terlalu kaku dan bisa lebih hemat.
Aslinya cream ini cukup kental dan lumayan lengket di tangan. Untuk mengakalinya, saya masukkan cream ini ke dalam botol spray lalu ditambahkan air, dan kocok sampai rata. Hasilnya, cream ini nggak akan lengket di tangan, rambut bisa mirip-mirip  wet look dan nggak kaku kayak pakai hair spray, serta menghemat jumlah pemakaian. Saya udah pakai selama 6 bulan dan belum habis-habis lho, mengingat harga satu jar-nya nggak begitu murah (maklum anak kostan, hahaha).

Kira-kira itu yang bisa saya share terkait perawatan untuk rambut keriting yang sudah diwarnai. Harap diperhatikan bahwa cara merawat rambut bisa beragam bagi setiap orang. Produk digunakan juga sangat bergantung pada si pemakai alias cocok-cocokan. Intinya sih jangan nyerah dulu sebelum menemukan treatment dan produk yang pas.

Even though maintaining curly hair is so challenging, remember, you have something that others don't. So take care of it and you'll thank yourself! Adios muchacha!
Share
Tweet
Pin
Share
5 comments
Punya rambut keriting itu berkah sekaligus sebuah tantangan. Nothing beats its uniqueness, tapi rambut keriting itu harus dirawat banget karena kondisi sebenarnya cukup fragile. Ya bisa dilihat kalau rambut saya ini kelihatannya megar, kering, dan tebal. Padahal sebenarnya rambut saya tipis, lho. Megar dan tebal itu hanya efek dari bentuk keriting yang ngembang.

Kebetulan rambut saya jadi keriting semenjak kelas 5 SD sampai sekarang (ceritanya di sini). Zaman SMP, saya nyoba pakai conditioner nggak dibilas (yang seharusnya dibilas, bukan yang leave on). Tapi ending-nya saya nyerah. Saya nggak kuat sama lembabnya si conditioner yang nggak dibilas karena bikin gerah dan lengket. Jadi jangan coba pakai conditioner yang harusnya dibilas malah dibiarin ya. Asli, nggak enak banget rasanya di kepala.

Kemudian ketika duduk di bangku SMA, saya masih belum nemu produk yang cocok untuk menaklukkan rambut saya. Akhirnya saat memasuki zaman kuliah, saya mulai bereksplorasi dengan beragam cara dan bermacam produk demi ngempesin rambut megar.

Intinya saya ingin mencoba membagi cara yang saya gunakan untuk menaklukan rambut keriting yang kusut, megar, dan kering. Sebelumnya saya sempat googling tetapi rata-rata kebanyakan orang luar yang rambutnya keriting itu tipe 4 yang keritingnya udah kecil-kecil banget dan mendekati kribo. Ada juga yang tipe 3 (kebetulan saya tipe 3A), tapi sayangnya produk yang mereka gunakan kebanyakan tidak dijual di Indonesia. Sementara itu dari situs lokal, saya belum menemukan cara yang pas untuk saya coba.


By the way, silakan baca tentang tipe rambut keriting di sini dan di sini kalau belum tahu tipe rambut mana yang dimiliki.

Mungkin akan ada beberapa cara yang mungkin bikin dahi mengerenyit alias terkesan aneh, but somehow it works on me.

Jarang Sisir Rambut
Semakin sering nyisir, rambut makin megar. Rambut keriting kalau disisir malah pecah keritingnya; bentuk asli keriting bakal rusak, rambut jadi nggak menyatu, dan ujung-ujungnya makin berantakan. Makanya saya sisiran kalau mau keramas saja dan setelah keramas untuk merapikan rambut yang kusut.
Selebihnya? Saya nggak sisiran lagi pakai sisir biasa. Kalau rambut mulai kusut, saya biasanya sisir pakai jari. Cara itu akan lebih menjaga bentuk keriting dan meminimalisasi megar. Kalau ada yang malas pakai jari, bisa juga pakai sisir garpu yang giginya jarang-jarang.

Keramas Seminggu Dua Kali
Well bagi yang sangat higienis dan harus keramas tiap hari, mungkin cara ini bisa dilewatkan. Tapi saya merasakan dampak lebih baik pada rambut dari jarang keramas ketimbang frekuensi yang terlalu sering. Berdasarkan beberapa situs yang saya baca, kalau terlalu sering keramas, minyak alami di rambut akan hilang dan itu akan menyebabkan rambut jadi semakin kering. Saya sepakat karena kenyataannya sehabis keramas itu rambut justru lebih kering walaupun rasanya lebih lembut dan ringan.
Kalau memang perlu banget ngebasahin rambut, nggak perlu pakai shampoo-nya. Cukup gunakan conditioner. Ini sering banget saya lakuin, karena rambut keriting itu kuncinya adalah kelembaban. Kalau kering, it's such a disaster. Stok conditioner saya pasti paling cepat habis dibanding shampoo, karena conditioner lah yang lebih penting daripada shampoo; bikin rambut saya lebih halus dan lembab tanpa jadi lebih kering.

Avoid Hair Dryer
Saya kebetulan jarang sekali pakai hair dryer karena bakal memperparah kondisi rambut; jadi kering banget dan tambah megar. Ada pula yang menyarankan pakai difusser, tapi ya itu kan belum tentu punya atau mudah didapat. Jadinya saya memilih cara alami saja, yaitu dibiarkan kering sendiri. Kalau mau lebih cepat, tinggal duduk atau berdiri di depan kipas angin. Cara ini bisa menjaga bentuk asli keritingnya. Bahkan menurut saya, rambut keriting yang baru kering itu bisa dibilang 'curl at its finest'. Bentuknya masih asli, rambut masih berasa ringan banget, dan nggak megar.
Ada lagi cara yang oke untuk ngeringin rambut, yaitu 'dibungkus' pakai kaos. Saya pernah coba saat keramas malam hari; setelah dikeringkan pakai handuk, saya balut rambut pakai kaos. Hasilnya? Ternyata rambut saya jadi lebih terjaga bentuk keritingnya dan nggak berasa kasar. Tips ini saya dapat dari beberapa situs terkait rambut keriting.

Colored Curly Hair = Extra Maintenance!
Dari 2013, saya sudah mulai coba-coba mewarnai rambut. Saya kepengen punya warna rambut ash yang undertone-nya biru, bukan coklat kemerah-merahan (ini saya sebel banget). Apalagi, Agustus 2015 saya mem-bleach rambut bagian dalam sebanyak tiga kali karena ingin saya timpa warna abu-abu atau biru. Alhasil semakin sering saya cat rambut, semakin rusak pula rambut saya.

Kira-kira itu cara yang biasa saya lakukan untuk merawat rambut keriting yang kering dan mudah kusut. Di postingan berikutnya, saya mau menceritakan tentang produk-produk rambut yang biasa saya pakai untuk mengatasi masalah serupa, khususnya rambut keriting yang sudah diwarnai berkali-kali.

Adios and see you on the next post!


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

11 Oktober 2014
Kakunodatemachi Nishinagano, Senboku, Prefektur Akita

Pagi hari, saya bersama teman-teman menyempatkan diri untuk jalan-jalan di sekitar rumah okā-san. Lagi-lagi saya speechless ngeliat suasana di sekitar rumah okā-san; luas banget dan bener-bener asri! Foto di atas terletak di belakang rumah dan di sana hanya ada bukit plus pepohonan yang cukup banyak. Dari sini akan tembus menuju rumah kayu yang berada di atas bukit (rumah kayu yang kami sambangi sore kemarin).

Nah, habis mengelilingi kawasan rumah oka-san, kami diajak jalan-jalan nih sama okā-san. Wah diajak pergi ke mana ya?

Pertama, kami diajak makan sushi! 


Saya pribadi suka banget makan sushi, dan penasaran pengen ngerasain makan di kedai sushi langsung di Jepang, hehehe. Kami berenam lalu dibawa ke sebuah kedai sushi (saya nggak inget persis di mana, tapi kalau nggak salah deket mall-nya Akita deh). Karena tempat duduknya terbatas, kami akhirya terpecah ke dua 'kubu'. Saya duduk bersama okā-san dan Arina. Nah di sini saya mencoba untuk ngobrol sama okā-san.

Saat mau milih menu sushi, saya sempet nanya ke okā-san, "Kore wa nan desuka?" Lalu dibalas dengan kalimat yang saya nggak pahami, hahaha. Tapi untungnya oka-san masih menjelaskan dengan gerak tubuh dan setidaknya saya masih paham dengan maksud okā-san. Sambil ngobrol, sambil makan sushi. Nggak berasa kami bertiga aja udah menghabiskan sekitar 18 piring! Temen-temen lain yang duduk di seberang langsung kaget karena tumpukan piringnya tinggi banget.

Nah di sini saya juga merasakan pengalaman yang berbeda terkait makan di kedai sushi. Di sini, orang Jepang memakan sushi nggak pakai sumpit, tapi langsung pakai tangan. Lalu kalau untuk penggunaan kecap asin, wasabi, dan bubuk cabai harus benar-benar terpakai semua; jangan sampai tersisa. 

Pelayanan di kedai ini juga unik lho. Nggak ada yang namanya waitress di sini; pesan sushi tinggal pilih di layar sentuh yang ada di tiap meja. Kalau sudah memilih, ada opsi apakah mau pakai wasabi di dalam sushi-nya atau nggak. Setelah itu, nunggu pesanan, sushi kemudian datang diantar oleh kereta mini! Nah, ada lagi nih, kalau di Indonesia saya seringnya minum ocha sudah jadi. Kalau di sini, ocha dibuat sendiri oleh konsumen. Bubuk teh hijau (ocha) sudah tersedia, lalu di meja ada keran air panas untuk menyeduh ocha.

Beres makan sushi, kami nggak langsung pulang. Sekarang kami mau berbelanja di swalayan, karena belanja karena malam ini kami berenam akan masak makanan khas Indonesia untuk okā-san dan otō-san!

Belanja sudah selesai, kami kembali ke rumah oka-san. Namun sebelumnya kami mampir ke sebuah toko perkakas yang cukup besar di sana karena okā-san harus membeli titipan otō-san. Setibanya di rumah, kami pun bersantai sejenak sebelum memulai masak. Rencananya, kami akan memasak salah satu makanan yakni sayur sop (Sisanya saya lupa, I'm so sorry!).

Dari sore sampai menjelang malam kami sibuk memasak karena masakan kami akan disajikan untuk makan malam. Semuanya dipersiapkan, dan kami menikmati waktu yang sangat menyenangkan bersama okā-san dan otō-san.

Setelah acara makan malam usai, kami berenam beberes meja makan dan dapur. Lalu saya baru sadar di sana ada CD tape di dekat dapur, dan di dalamnya ada CD The Carpenters.

[Play]

Mengalunlah lagu "(They Long to Be) Close to You", yang sangat berkesan bagi saya. Sambil duduk di kursi goyang, mendengarkan di malam terakhir kami menginap di rumah okā-san dan otō-san...

Why do birds suddenly appear, every time you are near?
Just like me, they long to be close to you.
Why do stars fall down from the sky, every time you walk by?
Just like me, they long to be close to you...



12 Oktober 2014
Kakunodatemachi Nishinagano, Senboku, Prefektur Akita

Pagi kembali tiba, kami harus dihadapi kenyataan bahwa kami akan meninggalkan rumah okā-san dan otō-san. Sebelumnya saya sempat jalan-jalan bersama Cynthia dan Rie ke rumah kayu satu lagi yang berada di depan rumah okā-san dan otō-san (dari posisi saya memotret foto di atas, masih harus naik bukit lagi).

Packing, check! Sarapan, check!

Saatnya berhadapan salah satu momen yang cukup membuat kami sedih: berpisah dengan okā-san, karena ia tidak bisa ikut mengantar kami ke tempat berkumpul seluruh peserta JENESYS. Kami akan pergi bersama otō-san. Tentunya kami nggak lupa untuk berfoto bersama sebelum berangkat.




Saya bersama okā-san dan otō-san serta anjing peliharaan mereka, Hana. Hana lucu banget, untungnya anjing ras Shiba ini nggak galak, hahaha. (PS: saya sebenarnya deg-degan banget deket-deket sama Hana, karena takut banget sama anjing!)

Kami kemudian bergegas menuju lokasi titik kumpul seluruh peserta JENESYS, yakni di Grandeaile Garden. Di sini kami akan makan siang sekaligus menyelenggarakan farewell party dengan seluruh keluarga homestay yang terlibat.

Suasananya sangat ramai, karena sepenglihatan saya setiap peserta sudah sangat dekat dengan keluarga angkatnya. Bahkan ada sesi semua peserta dan keluarga homestay nari bersama diiringi lagu khas Indonesia dan itu bener-bener seru lho! Nggak ketinggalan pula, salah satu keluarga dari Jepang juga memberikan persembahan berupa tarian sebelum acara ditutup.



Nah, ini nih, salah satu momen yang tadinya ceria banget langsung berubah drastis. Saatnya seluruh keluarga angkat berpamitan dan kembali ke rumah. Kebanyakan pada terharu, tapi ada juga yang nggak bisa membendung air matanya. Jujur saya sama temen-temen awalnya berusaha untuk tegar *halah*, eeeh tapi kalo otak sama perasaan lagi nggak sinkron, udah deh reaksi tubuh nggak bisa dibohongin. Mata saya berkaca-kaca sampai nggak sanggup liat otō-san, soalnya otō-san udah mau pulang...

"Arigatou gozaimasu!"

Saya bersama teman-teman membungkukkan badan (sambil menyembunyikan mata yang udah berkaca-kaca, hehe), sangat berterima kasih atas kekeluargaan dan keramahan yang kami dapat bersama otō-san dan oka-san di waktu yang sangat singkat tersebut. Walaupun baru kenal dua hari, tapi rasanya berat banget untuk berpisah dengan mereka. But the program must go on, right?



Semua keluarga homestay sudah pulang, kami pun melanjutkan program yang harus diikuti. Lalu kami akan menginap di Highland Hotel Shunjuan Sanso untuk stay selama semalam sebelum kembali ke Tokyo pagi harinya. Tetapi yang paling penting, di sini kami menggodok project akhir kelompok yang akan dipresentasikan esok hari di Tokyo.

Pastinya project ini harus dipersiapkan dengan matang karena akan dipresentasikan di hadapan para pejabat JICE selaku penyelenggara program ini. Kelompok saya waktu itu akhirnya memutuskan membuat video sekaligus speech yang menjelaskan tentang hasil kegiatan, pengetahuan, dan temuan lainnya yang diperoleh selama beberapa hari sebelumnya.

Proses brainstorming ide dari 25 orang di dalam satu kelompok ini memang nggak gampang. Output project bisa ditentukan dengan mudah, tapi menentukan apa kontennya yang butuh proses panjang. Sebenarnya separuh dari konten sudah dibahas saat masih menginap di Akita, tetapi di sini lah saatnya mematangkan konsepnya.

Usai makan malam sekitar pukul 7, ruang meeting yang sebelumnya kami gunakan ternyata tidak bisa dipakai lagi. Akhirnya kami pindah ke lobby hotel untuk mengerjakan video beserta konten speech-nya. Saya inget banget, kami mengerjakan project ini sampai pukul 2 pagi. Itu sampai lampu lobby dimatiin semua sama stafnya. Akhirnya kami ngerjain sambil gelap-gelapan, mana waktu itu saya yang bikin video-nya; mata rasanya jureng banget ngeliat monitor laptop berjam-jam, plus suasana lobby yang gelap.

Intermezzo: Saya bisa makin banyak ngobrol dengan teman-teman sekelompok sambil mengerjakan project akhir. Sambil cerita, sambil beresin project.

Lalu saat saya istirahat sebentar, iseng-iseng ke luar di depan lobby hotel; d-i-n-g-i-n banget! Kalau nggak salah itu suhunya 8 derajat Celcius. Makin malam memang makin dingin, apalagi Akita lokasinya udah di bumi belahan utara.

Mata sudah lelah, badan pun sudah rentek. Kami yang tersisa akhirnya bisa istirahat setelah project selesai. Bisa dibilang kami hanya punya waktu 4 jam untuk tidur karena pagi-pagi sudah harus bangun untuk bersiap kembali ke Tokyo...


13 Oktober 2014
Tazawako Station, Prefektur Akita

Sekitar pukul delapan pagi, cuaca tampak mendung. Ternyata berdasarkan ramalan cuaca, hari ini cuacanya kurang bagus. Saya mulanya mendengar hanya terjadi di Tokyo, tetapi ternyata Akita juga demikian. Saat kami berada di Stasiun Tazawako untuk menaiki shinkansen menuju Tokyo, anginnya berhembus sangat kencang. Awannya pun sangat gelap. Saya khawatir di Tokyo nanti akan lebih parah...


Setibanya di Stasiun Tokyo, suasana gelap dan mendung sangat mendominasi. Bahkan sudah mulai turun hujan. Saya bersama rombongan lalu berjalan kaki dari stasiun menuju tempat parkir bus untuk menyambangi lokasi berikutnya.

Tokyo Fashion Town Building pun menjadi lokasi kami mempresentasikan project akhir sebelum menyelesaikan program JENESYS 2.0 Mass Media and Broadcasting Batch 4. Arsitektur gedungnya modern sekali. Di sana kami makan siang dahulu sebelum memulai sesi presentasi.

Fyuh, saatnya presentasi! Giliran presentasi ditentukan berdasarkan urutan grup. Saya tergabung dalam grup C, jadi kami akan maju di urutan ketiga. Waktu itu yang mewakili kelompok kami untuk memberikan speech adalah Shella, Billy, dan Firdha. Saya kebetulan menjadi operator untuk menyiapkan video yang sudah dibuat.


Presentasi akhirnya selesai! Acara pun ditutup dengan pemberian sertifikat kepada perwakilan kelompok serta sepatah kata dari perwakilan JICE. Kami tentunya senang bukan main, karena project akhir kami sudah rampung. Tapi tentunya ini menjadi pertanda bagi kami bahwa waktu kami di Tokyo tinggal satu hari lagi.

Saya bersama grup C pun berfoto bersama dengan pendamping grup kami yang sangaaat baik, yaitu Kawanishi-san dan Kajiya-san. Banyak momen seru dan kocak bersama mereka, dan tentunya kami pasti bakal clueless kalau nggak ada bantuan dari mereka.

Sayangnya, setelah sesi ini, Kajiya-san (yang rambutnya pendek, berdiri di tengah) akan berpisah dengan kami karena tugasnya sudah selesai. Selebihnya kami akan didampingi oleh Kawanishi-san yang sudah menemani kami semenjak hari pertama bertemu di hotel.

Usai meninggalkan Tokyo Fashion Town Building, seluruh rombongan mampir ke Daiei Shinurayasu dan MONA Shinurayasu, dengan tujuan makan malam serta membeli kebutuhan yang mungkin diperlukan saat pulang ke Jakarta. Setelah itu kami kembali ke hotel awal kami menginap, yakni Tokyo Emion Bay Hotel. Kami akan menghabiskan satu malam di sana sebelum berangkat ke Bandara Narita besok pagi. 

Too bad, badai melanda Tokyo malam ini, jadinya kami nggak diperbolehkan untuk keluar hotel...



Last Day
14 Oktober 2014
Bandara Internasional Tokyo Narita, Prefektur Chiba

I'm going to miss those moments in Japan. I'm going to miss those places I've visited.
Tokyo, Yokohama, Akita, oka-san, otō-san, Kajiya-san, Kawanishi-san,
everything.

6 sampai 14 Oktober 2014 akan menjadi hari yang sangat saya ingat. Hari-hari saya akhirnya meraih salah satu impian saya untuk menjajakan kaki di Jepang. Tak terhitung berapa banyak pengalaman dan cerita baru yang saya peroleh selama berada di sana. 

I am so grateful. Tanpa perjuangan apapun pasti saya nggak bakal bisa mendapat pencapaian seperti ini. Saya amat berterima kasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu selama menjalani program ini, mulai dari kampus, orangtua, kawan-kawan di kampus, staf Kemeninfo, panitia JENESYS 2.0, hingga teman-teman baru yang saya temui.

Semoga saya mendapat kesempatan lagi untuk menjelajahi Jepang lebih luas dan lebih mendalam.

Akita & Tokyo, you're always on my mind.




Share
Tweet
Pin
Share
No comments

10 Oktober 2014
Prefektur Akita

Sambil packing, saya sebenarnya agak deg-degan begitu tahu agenda hari ini. Kami akan berkunjung ke sebuah kawasan historis di Akita yang terkenal akan samurainya. Tapi setelah itu, 97 peserta yang ikut bakal dipecah ke beberapa kelompok kecil untuk menginap di rumah warga setempat!

Jadi dalam program JENESYS 2.0, ada jadwal khusus yakni homestay. Kami akan tinggal selama dua hari bersama keluarga asli Jepang yang tinggal di Akita. Deg-degan karena bener-bener nggak kebayang seperti apa nanti saat homestay bersama keluarga baru ini. But today would be sooo interesting!




Kakunodate Bukeyashiki
Distrik Senboku, Prefektur Akita

Kedatangan kami di sini ternyata disambut oleh Walikota Senboku, Kadowaki Mituhiro. Ia pun sempat memberi pidato di awal kunjungan kami di Kakunodate Bukeyashiki, tepatnya di Kaba Craft Densho-kan, sekaligus menceritakan tentang pariwisata di wilayah pemerintahannya. Kebetulan walikota yang satu ini humoris, di sela-sela pidato (setelah diterjemahkan) pasti ada aja gelak tawa dari peserta yang hadir.

Ngomong-ngomong apa sih Kakunodate Bukeyashiki? Sayangnya pertanyaan saya yang satu ini belum terjawab karena setelah mengikuti pidato, kami harus makan siang dulu di tempat yang cukup jauh dari kawasan bersejarah ini. Barulah habis itu saya bisa mengikuti tur keliling Kakunodate Bukeyashiki.




Perut sudah terisi, kami pun kembali ke Kakunodate Bukeyashiki. Saya bersama separuh grup C didampingi Kawanishi-san dan seorang pemandu wisata bersiap untuk mengobservasi kawasan ini. Kakunodate Bukeyashiki dikenal sebagai kawasan bersejarah karena ini adalah kompleks rumah para samurai.

Kakunodate menjadi salah satu kota kecil yang dijuluki "little Kyoto". Kota ini berdiri pada 1620, dipimpin oleh klan Satake pada zaman Edo . Biasanya pada awal September, kota ini mengadakan Festival Musim Gugur. Festival tersebut sudah berjalan selama lebih dari 350 tahun, lho.

Di kawasan ini tentunya akan mudah sekali melihat rumah-rumah samurai. Ada juga beberapa rumah samurai yang dijadikan museum, sehingga pengunjung bisa memasuki dan melihat ruangan yang ada di dalamnya. Tetapi memasuki sebagian rumah tersebut ada yang dipungut biaya, ada pula yang tidak perlu membayar alias gratis.

Setiap rumah memiliki pintu gerbang dan atap pintu depan rumah. Nah pemandu kelompok saya waktu itu sempat menyebutkan kalau gerbang dan atap pintu tersebut bukan sekadar ornamen rumah saja, tetapi menunjukkan status sosial penghuni. Semakin megah dan besar gerbang dan atapnya, maka semakin tinggi 'pangkatnya'.


Beres mengelilingi Kakunodate Bukeyashiki, kami semua melanjutkan jadwal kegiatan berikutnya. Inilah saat-saat yang bikin deg-degan... Bertemu dengan keluarga homestay!

Saya nggak tahu persis di mana tempatnya, tapi saya dan teman-teman dibawa ke sebuah gedung untuk bertemu dengan keluarga homestay kami. Ketika masuk, kami melihat para keluarga sudah hadir dan duduk menanti. Rasanya campur aduk, nggak sabar pengen bergabung sekaligus penasaran dengan siapa saya bakalan tinggal.

Tentunya tinggal bersama keluarga asli Jepang menjadi tantangan tersendiri bagi kami, termasuk saya. Kendalanya tentu di bahasa, kebanyakan keluarga di sini tidak bisa berbahasa Inggris. Jadinya harus pintar-pintar berkomunikasi non-verbal, lebih banyak menggunakan bahasa tubuh. Namun saat orientasi kami dibagikan buku saku panduan bahasa Jepang, jadi setidaknya bisa sedikit terbantu.

Saya sendiri sebenarnya ada basic bahasa Jepang karena sewaktu SMA saya belajar bahasa ini. Tapi sekarang saya cuma hapal huruf hiragana dan katakana, serta percakapan paling basic, seperti sapaan, ucapan terima kasih, dan beberapa pertanyaan dasar lainnya. Selebihnya? Waduh bablas, nggak ngerti sama sekali.

Kembali ke gedung. Saya akhirnya menerima lembar berisikan informasi dasar keluarga yang nantinya akan menjadi keluarga angkat saya di sana. Saya juga mengetahui teman-teman yang akan tinggal bersama saya; Arina, Anggie, Rie, Cynthia, dan Shella. Kebetulan semuanya adalah teman satu grup dan sudah kenal cukup baik dengan mereka.

Kami pun berkumpul, bertanya-tanya siapa yang menjadi keluarga angkat kami. Ketika sebagian besar kelompok lain sudah bergabung dengan keluarganya, saya masih belum menemui mereka. Sambil menunggu, saya juga melihat ada keluarga lain yang membawakan karton bertuliskan ucapan selamat datang untuk anak-anak mereka. Wah suasana waktu itu cukup riuh, menggembirakan karena bisa berbaur dengan keluarga baru di sini.

Kemudian sesosok wanita paruh baya menghampiri kami. Ah, ternyata itu orangtua angkat kami! Saya dan teman-teman senang akhirnya bisa bertemu dengan orangtua angkat kami di sini. Namun kami kembali terbentur kendala bahasa. Rasanya ingin sekali banyak nanya sama okā-san (baca: okaa-sang, sebutan ibu dalam bahasa Jepang), tapi karena okā-san nggak bisa berbahasa Inggris, jadilah saya (dan teman-teman juga mungkin) bingung mau ngomong apa, hahaha. Tapi grup saya beruntung dengan keberadaan Cynthia, karena ia fasih berbahasa Jepang.

Beres acara di gedung tersebut, kami pun berpisah sementara dengan teman-teman lainnya yang sudah bergabung juga dengan keluarga angkatnya. Saya dan teman satu kelompok mengikuti okā-san menaiki mobilnya. Kami pun berangkat menuju rumah okā-san!


Sampai sekarang saya nggak hapal jalur menuju rumah okā-san, karena kawasannya di sana cukup luas, udah gitu banyak belokannya. Mobil okā-san kemudian mengarah ke sebuah tempat yang agak cukup dalam bila hendak menuju jalan utama. Mobil pun berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar. Ah, ini pasti rumahnya okā-san. Setelah kami turun, kami tidak diajak masuk ke rumah tersebut, tetapi.... ke rumah di belakangnya!

Ini yang bikin takjub, karena setelah rumah okā-san, ada lagi rumah berupa penginapan dan rumah kayu. Di depannya? Wih, halaman luaaaas banget kayak bukit di program anak zaman baheula "Telletubies" plus ada sawah di sana. Saya sendiri bengong plus takjub ngeliatnya, hahaha. Bayangin, halaman seluas itu 'milik' keluarga okā-san! Di ujung bukit itu ada juga dua rumah kayu yang asik banget buat duduk santai.

Saat masuk ke rumah tempat kami menginap, saya suka banget sama desain interiornya. Rumah kayu ini sangat homey. Setelah menaruh tas dan segala macam bawaan, kami kemudian diajak oleh okā-san menuju rumah kayu yang berada di atas bukit. Di sana, kami berfoto bersama sambil menikmati hembusan angin sore yang sangat sejuk...





Saat kami semua berada di atas bukit, otō-san (baca: otoo-sang, sebutan ayah dalam bahasa Jepang) akhirnya datang menyusul. Akhirnya lengkap sudah kami menemui keluarga Sasaki. Jadi otō-san dan okā-san memang tinggal berdua saja saat ini, karena ketiga anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di tempat terpisah. Berarti selama dua hari ke depan, kami berenam bakal menemani dan membantu okā-san dan otō-san di rumah, hehehe.

Langit tampak makin gelap, kami pun kembali ke rumah. Ternyata okā-san akan menyiapkan salah satu hidangan khas Jepang yakni nabemono atau nabe. Nabe ini berupa hidangan yang disajikan di pot berupa kuah kaldu yang kemudian diisi beragam makanan; biasanya sayur, jamur, mie, hingga daging. Pastinya kami semua membantu okā-san untuk menyiapkan nabe. Di sinilah kami mulai belajar seperti apa sih keseharian warga Jepang asli; kali ini tentang masak-memasak, menghidangkan makanan, sampai belajar tata krama saat makan.



Itadakimasu! Selamat makan!

Nabe hasil racikan kami berenam bersama okā-san pun siap disantap. Pot nabe-nya ditaruh di atas tungku api yang terletak di tengah-tengah meja makan. Jadi kami berenam, okā-san dan otō-san duduk saling berhadapan sehingga kami bisa berinteraksi dengan mudah. Makan malam kali itu sangat beragam; nabe, buah-buahan, tempura, dan beberapa minuman tersaji di meja. Nggak jauh berbeda dengan kebiasaan di Indonesia, tentunya masyarakat di sini juga terbiasa dengan pangan nasi; nabe kami santap bersama dengan nasi putih.

Beres melahap nabe, kami semua pun mulai bercakap-cakap. Ini salah satu momen yang sangat berkesan, karena di sini kami semua bercerita tentang keluarga kami di Indonesia kepada otō-san dan okā-san, hingga menunjukkan foto-fotonya. Pastinya perbincangan seperti ini menjadi salah satu upaya mendekatkan diri dengan keluarga angkat kami di sini.

That day was so delightful. I couldn't wait for the next day, spending the whole day with okā-san and otō-san!



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

The Writer

The Writer

Categories

travel Trip Experiences thought photography Solo Travel Spain Study

Popular Posts

  • Reasons
  • JPN Part 3: Between Samurai & Homestay
  • Bali: An Unexpected Trip

Instagram

@pspratiwi



Blog Archive

  • ▼  2019 (1)
    • ▼  October 2019 (1)
      • Accidentally Mixing Spanish & English!
  • ►  2018 (8)
    • ►  December 2018 (2)
    • ►  August 2018 (1)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  February 2018 (1)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (8)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  April 2017 (2)
    • ►  March 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (11)
    • ►  December 2016 (2)
    • ►  July 2016 (1)
    • ►  May 2016 (1)
    • ►  April 2016 (5)
    • ►  January 2016 (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  July 2015 (2)
    • ►  June 2015 (1)
  • ►  2014 (4)
    • ►  December 2014 (3)
    • ►  October 2014 (1)
  • ►  2013 (5)
    • ►  November 2013 (2)
    • ►  March 2013 (1)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (12)
    • ►  December 2012 (1)
    • ►  November 2012 (2)
    • ►  August 2012 (1)
    • ►  May 2012 (4)
    • ►  February 2012 (4)
  • ►  2011 (16)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (1)
    • ►  June 2011 (3)
    • ►  April 2011 (2)
    • ►  March 2011 (2)
  • ►  2010 (4)
    • ►  December 2010 (3)
    • ►  September 2010 (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  December 2009 (1)

Created with by ThemeXpose