• Home
  • About
  • Contact
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram Email

Curlnology

Hello again, guys.

It is so nice to write another blog post since it has been a very loooooong time I kept this story. Now I am going to tell you about my latest trip in Lombok, which was so amazing!

Well, this was my first solo travel experience outside Java island. After I completed my bachelor degree, I decided to go to Lombok because I deserved it. After 1 year thesis research, lots of up and down moment during that time; I needed a getaway.

This 6 days 5 nights journey was very pleasant since I learnt so much new things. For instance, I tried to talk more especially to strangers (yup, I am always nervous when surrounded by strangers), then I also had the chance to meet very kind locals and fellow travelers.

So, how's the story? Let's start!

OCT 17 - DAY 1
My flight was at 5.00 am from Soekarno Hatta Airport Jakarta. Since I was still staying in Jatinangor, I went from Bandung to Cengkareng at 11.00 pm by taking bus. Arriving at 3.00 am, I still had plenty time to wait and check in.

After two hours flight, finally I stepped my feet for the first time in Lombok. I arrrived at 8.00 am but I could feel the heat was so intense that day.

I was taking Damri bus from Lombok International Airport to Senggigi. It only cost IDR 35.000 per person (around US$ 3) and my ride with the bus was pretty great. The driver even recommended me some places to visit since I had conversation with him from the airport until Senggigi (I was the only person who went to Senggigi in that bus).

The bus was small and only able to carry about 10-15 persons. One of nice things I could find, the bus had special storage for luggage so you don't have to worry about where to keep your big carrier or luggage inside the bus.

Oh, why I went to Senggigi? I thought Senggigi was closer to Gili Trawangan, then I could find minimarket, food stalls, and ATM at ease since it's a very popular spot in Lombok. The consequence was, it took around 1 hour ride to reach Mataram and 1,5 hour ride to South Lombok since they're pretty far from Senggigi.

From mini bus shelter of Damri in Senggigi, I walked to my homestay that I booked from booking.com, Borneo Homestay. It's really close to Senggigi Beach, only 3 minutes by walking. Thankfully I could get early check in so I was able to eat and take a nap first. I also rented motorbike for my trip here, and I could get cheaper rent rate, hahaha.

Since I was extremely exhausted after long trip Jatinangor-Bandung-Jakarta to Lombok, I decided to spend my first day wandering around north Senggigi. I rode my rented motorbike, looking around, and of course, I found so much interesting spots to see.

My first impression about Lombok? BEAUTIFUL. Period.



I gotta admit that I was totally amazed by everything I saw. Just... whoa!! The main road around Senggigi is very close to sea, so you can see those lovely views while driving. And one note: the road in Lombok is mostly so good!!! You can find very minimum damaged road here. But still, you have to be careful since there're lots of winding road around Lombok.

After some hours exploring north Senggigi, I found some best spots to watch sunset. I almost couldn't believe my eyes that time since everything were so magical.





Come on, how can you not dig those views???

I stopped on that spot (2nd picture above), parked my motorbike, then just sat on it. I enjoyed the view peacefully since I was alone. Since it went darker after sunset, I went back to Senggigi to have dinner then spend my night with some people I met at the homestay. Apparently my first day in Lombok was quite amusing.

OCT 18 - DAY 2

Actually I had plan to go to South Lombok this day, but unfortunately I had to postpone it since I woke up pretty late, hahaha. This is one of disadvantages I have since I am not a morning person. But well, I was exhausted yesterday; I only got 1-2 hours to sleep while on bus from Bandung to Jakarta.

So what's the alternative plan? I didn't have to worry much since I had 5 more days in Lombok. I decided to go to Mataram, Kota Tua Ampenan, then north Lombok again. For this time, I visited Pandanan Beach, Nipah Beach, and Melaka Beach.




Other fascinating views I saw while visiting those beaches. At first, the sky was so cloudy, I was a bit worried it would be raining that day, but the opposite happened.

It was almost dark here. I rode my motorcycle from north Lombok to go back to Senggigi. When I saw the right side of the road, I was completely distracted. This probably one of the greatest sunset I've ever seen. I stopped, I captured this beautiful scenery.

Then sky got darker and there was no around. In solitude, I enjoyed every seconds of this moment....


My second day started badly, but it turned out to be one of the most memorable day I had.

This trip apparently kept so much surprises for me. I couldn't wait to see what I'd get tomorrow since day 3 was the day I would explore South Lombok.

See you on the next post!
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Solo traveling itu candu! Sekali merasakan, berikutnya ingin lagi menjelajah daerah baru seorang diri. Memang rasanya sangat menantang bila harus berpergian sendiri di kawasan yang masih asing banget bagi kita. Tentunya pelancong solo akan menghadapi kendala seperti keamanan yang nggak diketahui seperti apa, perbedaan bahasa, hingga penduduk lokal yang tidak dikenal. 
Tetapi sesungguhnya banyak sekali keuntungan yang dapat dirasakan dari solo traveling. Jelajah kawasan baru terasa lebih leluasa dan puas. Selain itu, lebih banyak bertemu dan bercengkerama dengan penduduk lokal sangat memperkaya cerita perjalanan saya.

Lantas, mana lagi kota yang ingin dikunjungi? Kebetulan saya memang sedang merancang rencana trip ke luar negeri tahun ini. Saat browsing negara mana yang menarik untuk diulik lebih lanjut, perhatian saya pun tertuju pada kota satu ini.

Source: cnn.com
Setelah menggali lebih dalam mengenai kota yang terletak di bagian tenggara Tiongkok ini, saya semakin tertarik untuk menjadikannya sebagai destinasi saya berikutnya. Mengapa?

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, masalah kemanan selalu menjadi pertimbangan bagi solo traveler, apalagi bagi saya sebagai perempuan. Ternyata, Hong Kong menduduki salah satu peringkat dalam jajaran kota teraman di dunia!

Berdasarkan report yang dirilis oleh The Economist Intelligence Unit, “The Safe Cities Index 2015”, Hong Kong menduduki peringkat 6 di kawasan Asia-Pasifik. Sementara itu dalam daftar “20 Kota Teraman di Dunia” secara umum, Hong Kong menempati urutan ke-11 dari total 50 kota.

Bahkan dalam kategori personal safety, Hong Kong juga masuk ke dalam daftar Top 10 Kota Teraman di Dunia, yakni berada di peringkat 6. Selain itu banyak traveler asing yang merekomendasikan Hong Kong sebagai destinasi wisata bagi para wisatawan, khususnya solo traveler.

In addition, it often regarded as one the safest cities in the world, which makes it a perfect Asian getaway spot for female solo travelers. On top of it all, Hong Kong has an endless array of attractions and experiences to offer to its visitors. (trekeffect.com)
Although it is one of the safest Asian cities you can visit, that doesn’t mean it’s boring! Hong Kong is bursting with energy and offers travelers a great fusion of East-meets-West. (worldofwanderlust.com)

Nah karena itu, saya coba mencari tempat-tempat yang recommended dikunjungi di Hong Kong. Apalagi saya belum pernah menyambangi kota ini sama sekali, jadi bener-bener harus cari info yang banyak! Setelah cek segala macam situs online, akhirnya saya mengandalkan situs discoverhongkong.com, secara ini adalah official website dari Badan Pariwisata Hong Kong. Semua informasi yang saya butuhkan ternyata bisa ditemui dengan mudah di sini.

Satu kata yang bisa mendeskripsikan bagaimana reaksi saya saat mencari tempat wisata di Hong Kong: kalap!!!

I can find anything I really like here. Mulai dari pemandangan kota dan pelabuhan, museum seni dan budaya, taman bermain, kawasan wisata kuliner, sampai kawasan perbelanjaan. Waduh mau datengin apa aja nih?? Sampai bingung dan kalap, hahaha.

Berdasarkan pertimbangan cukup matang, akhirnya saya memiliki daftar tempat-tempat di Hong Kong yang wajib saya sambangi nanti. Saya akan membaginya sesuai kategori yang saya buat sendiri.

PEMANDANGAN KOTA

Source: discoverhongkong.com
Victoria Peak
Saya wajib banget datang ke sini! I am an avid fan of skycrapers at night; love the lights, love the spectacular view! Selain itu saya mau nyoba naik The Peak Tram, dan pastinya nanti pemandangan yang bisa saya lihat akan sangat luar biasa.

sky100 Hong Kong Observation Deck
Walaupun sempet gemetaran dan keringat dingin saat naik Singapore Flyer untuk lihat pemandangan kota Singapura dari ketinggian, saya tetap getol ingin coba lagi di kota lain! Di Hong Kong, ada yang namanya sky100 Hong Kong Observation Deck. Wah, dari lantai 100? Saya nggak kebayang nanti lemesnya kayak apa, hahaha (I am afraid of heights guys, but it’s okay!). Deck ini disebut tertinggi yang ada di Hong Kong, dan pastinya pemandangan yang disuguhkan benar-benar spektakuler, apalagi saat malam hari!

TAMAN BERMAIN

Source: hongkongdisneyland.com
Hong Kong Disneyland
I never have the chance to visit huge amusement park like this. I really wish I will be able to come and play! STAR WARS!!! IRON MAN!!! Pengen banget mendatangi “Iron Man Experience”, “Star Wars: Command Post”, dan segala atraksi permainan yang ada di sana!

TAMAN DAN MUSEUM HONG KONG

Source: discoverhongkong.com
Tian Tan Buddha (Big Buddha)
Terletak di Lantau Island, kelenteng ini ternyata memiliki magnet tersendiri bagi para wisatawan. Ada patung Buddha yang sangaaat besar, dan untuk melihat lebih dekat harus dicapai dengan menaiki 268 anak tangga! Hitung-hitung olahraga saat liburan, hahaha. Tapi yang pasti ketika saya mengunjungi kawasan ini tentunya ingin merasakan kultur lokal serta melihat beragam bangunan atau adat istiadat yang ada.

Source: discoverhongkong.com
Nan Lian Garden
Begitu lihat foto-fotonya, wah tamannya terlihat cantik banget! Taman ini tampak menarik, karena berada di tengah kota Hong Kong yang padat dan sophisticated dengan skycraper yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Seolah taman ini seperti oase di antara concrete jungle yang ada di Hong Kong.

Hong Kong Museum of History
Untuk melihat jejak sejarah suatu kota, mengunjungi museum adalah pilihan yang paling tepat. Saya senang jalan-jalan dan melihat koleksi yang ada di museum, karena di saat yang bersamaan saya bisa mengenal lebih jauh mengenai kota yang saya kunjungi. Pastinya saya memasukkan museum ini ke dalam wish list perjalanan di Hong Kong!

KAWASAN PERBELANJAAN & WISATA KULINER

Tsim Sha Tsui
Kawasan ini ternyata tersohor sebagai pusat perbelanjaan di Hong Kong. Untuk cuci mata dan berbelanja tentunya Tsim Sha Tsui dapat menjadi pilihan. Namun selain itu, saya sesungguhnya lebih senang melihat suasana di sekitar daerah tesebut karena tiap distrik pasti punya ciri khas masing-masing.

Source: discoverhongkong.com
Kawasan Wisata Kuliner: Aberdeen, Ashley Road, dll.
Ini nih yang nggak boleh ketinggalan kalau jalan-jalan: wisata kuliner! Rasanya kurang afdol kalau belum mencicipi makanan khas Hong Kong, terutama street food dan seafood-nya yang dikenal juara banget. Nggak hanya itu, di Hong Kong juga ternyata mudah bagi umat Muslim untuk mencari makanan halal, so saya nggak perlu khawatir nanti jika ingin cari makanan di sana. Daftar restoran halal recommended pun dapat dijumpai di situs ini.

Itulah daftar lokasi wisat yang ingin saya kunjungi di Hong Kong. Saya sangat penasaran dengan masyarakat, budaya lokal, transportasi, kuliner, tempat wisata, hingga beragam hal lainnya yang ada di sana. I am so excited to explore Hong Kong soon!


*Source of header photo: discoverhongkong.com

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #WegoDiscoverHK“
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kalau mengingat-ingat lagi masa perkuliahan dari semester 3 sampai semester 7, rasanya itu... luar biasa, melelahkan, dan ajaib!!!

Semester 3 sampai semester 6 saya ngerasain yang namanya "berdarah-darah" ngerjain tugas; mulai dari tugas mingguan Abang Sahala, tugas wawancara, nulis straight news, nulis feature, nulis artikel, produksi jurnalistik (TV, majalah, dan radio), sampai berita mendalam.

Apalagi saat semester 3, saya dan teman-teman seangkatan harus melalui dulu yang namanya 'Orientasi Jurnalistik' (OJ) sebelum sah bergabung di Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (HMJ). Semester 3 jadi salah satu semester berat, karena tugas bejubel plus dibarengi OJ yang waktunya bener-bener random.

Pastinya, selama kuliah liputan dan wawancara itu udah jadi kebiasaan. Baca majalah Tempo tiap minggu juga makin sering karena jadi tugas mingguan. Begadang, nggak mandi, ke kampus belum tidur pun jadi rutinitas sehari-hari. Ditambah lagi saya harus bisa menyeimbangi kegiatan antara kuliah, organisasi, dan kehidupan sosial; kuliah harus tetep mempertahankan nilai, ngurus di dua organisasi, dan meluangkan waktu untuk main sama temen-temen. Saya akui itu memang nggak gampang, energi banyak terkuras, tapi beruntung saya selalu enjoy ngejalaninnya.

Masih di semester 3, saya punya pengalaman unik saat mengerjakan tugas matkul wawancara. Waktu itu hari Jumat, tumbenan pagi-pagi saya kebangun. Nggak begitu lama setelah bangun, saya ditelepon narasumber yang bersedia diwawancara. Epic-nya, beliau ada di Garut karena berprofesi sebagai guru TK di sana. Saya harus mengejar sebelum jam 12 untuk tiba di Garut dari Jatinangor!

Nggak pake acara mandi (cuma gosok gigi dan cuci muka), saya langsung berangkat naik motor dari Jatinangor ke Garut. Sempet khawatir terlambat sampai, tapi ternyata saya bisa sampai di sana sekitar jam 11 siang. Beruntung ibunya baik banget, bahan wawancara tentang disertasinya dikasih lengkap, bahkan saat pulang dikasih kue sekotak. Dalam perjalanan menuju Nangor cuma bisa cengar-cengir karena senang bisa mendapat bahan tugas lengkap dan narasumbernya baik banget!

Di semester 5, saya mulai struggling mengerjakan tugas penulisan feature dan produksi feature TV. Untuk feature TV, kelompok saya sampe bela-belain bolak-balik Nangor-Pangalengan untuk liputan lho! Bahkan saat baru mau memasukkan surat perizinan ke pihak KPBS, saya, Petek, Che, Ulum, dan Tyo sampe bela-belain tidur di teras minimarket demi menyambangi kantornya pagi-pagi. Parahnya, Pangalengan berada di dataran tinggi, dan dinginnya ampun-ampunan!


Di feature buatan kami ini, kami mau menampilkan lokasi wisata dan keunikan dari Pangalengan. Lalu di akhir semester, liputan kami ini di-submit ke NET TV oleh dosen pengampu matkul, dan ternyata masuk ke segmen Citizen Journalism di program beritanya! Pengalaman nyaris dikepret ekor sapi saat shooting pun ternyata berujung manis, hahaha.

Semester 5 berlalu, masuklah di semester 6. Semester ini terkenal paling hardcore karena ada mata kuliah praktik jurnalistik atau dikenal dengan produksi juju-an; produksi program berita TV, siaran radio, sampai bikin majalah. Kemudian dibarengi mata kuliah penulisan artikel dan tajuk rencana; tiap minggu para mahasiswa harus review 1 artikel per hari dari 1 koran selama satu semester penuh! Tiap minggu harus ada laporan mingguannya yang dikumpulkan tiap sesi perkuliahan. Belum lagi matkul lain yang tugasnya juga nggak sedikit.

B-a-y-a-n-g-k-a-n.

Saya satu kelompok dengan Petek, Tyo, Ulum, Rize, Ganda, Harith, Fitra, Ani, Indah, dan Vina. Kebetulan saya, Petek, Tyo, Ulum, dan Rize sudah satu kelompok dari zaman produksi feature TV saat semester 5. Nah produksi ini ibaratnya puncak-puncaknya segala materi kuliah yang udah kita dapat dari semester 3, dari wawancara, penulisan berita cetak, feature cetak/radio/TV, manajemen media, sampai perkembangan media baru.


Tenaga, pikiran, mental, materi, dan segala macem tercurahkan di semester 6 ini, terutama produksi juju-an. Begadang nonstop, liputan bolak-balik Bandung-Jatinangor, bahkan sempet ke Jakarta juga untuk wawancara satu narsum, sampai liputan di taman-taman dan event-event. Saya inget banget waktu itu malah flu berat saat mengejar deadline penyelesaian tugas jurnalistik televisi dan cetak, sampai-sampai saya ngablu begadangnya, hahaha. Tapi akhirnya berbuah manis untuk produksi jurnalistik cetak dan radio (kecuali TV sih, ada sesuatu di ending-nya yang... ergh).

Beres semester brutal itu, lanjut ke semester 7. Di sini ada yang namanya penulisan berita mendalam (PBM) alias indepth news yang tugas akhirnya dikerjakan berdua. Pas penulisan berita mendalam lumayan juga struggle-nya, mulai bolak-balik Jakarta-Nangor sehari demi ngejar narasumber di Duren Tiga, terus nyaris nggak bisa pulang karena nggak dapet Transjakarta; penuhnya edan-edanan! Ending-nya pun bikin ketar-ketir juga.

Mendekati deadline pengumpulan tugas akhir, saya dan Fitra di-PHP-in narasumber. Saya udah tunggu narsumnya di kampus eh bilangnya langsung pulang karena sakit, padahal sudah janjian dari jauh-jauh hari (Ehem, bilang aja nggak mau diwawancara, Pak). Topik indepth news kami memang cukup 'sensitif', yakni terkait isu UU ITE yang waktu itu lagi ramai-ramainya diberitakan dan banyak warga yang dilaporkan ke polisi menggunakan UU ini.

Grafik intensitas tugas dan ketegangan di semester ini bisa dikatakan berkurang, karena rata-rata matkulnya tidak banyak praktik ke lapangan. Tapi di semester ini sudah ada matkul seminar dan metode penelitian kualitatif, di mana saya sudah harus memikirkan skripsi. Hayoloh...

Di saat teman-teman di kampus lain sudah skripsian atau bahkan lulus, semester 7 saya masih ada mata kuliah yang harus dilalui DAN belum bisa magang atau job training. Barulah di semester 8 saya baru mulai magang, di dua media massa pula. Jadi di saat-saat seperti ini, saya cuma bisa tutup kuping kalau ada yang nanya, "Kapan lulus?", hahaha.

Saat magang, saya beruntung sekali bisa menjadi intern reporter di Kompas.com dan TvOne. Pengalamannya tentu amat berharga; apa yang sudah dipelajari di bangku kuliah dipraktikkan, tetapi harus juga menyesuaikan diri dengan realita di lapangan.

Lantas, apa yang bisa saya tarik hikmahnya dari menjadi mahasiswi jurnalistik?

Ratusan hari sudah dilalui.
Keluhan sudah tak terhitung.
Malam tanpa memejamkan mata sudah biasa.
Jatuh-bangun mengejar dosen dan narasumber apalagi, sudah kebal.

Tapi mengapa itu semua malah membuat saya menjadi bersemangat?

Maybe it's my call.

Saya rasa jalur ini memang cocok bagi saya: menjadi mahasiswi jurnalistik.

Kesimpulannya? Ajaib!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Seperti yang pernah saya post sebelumnya (klik di sini), jadi mahasiswi ilmu komunikasi (ilkom) itu merupakan hal yang nggak terduga. Bermula ingin belajar DKV, eh banting setir ke ilkom. Sempet kepikiran apakah saya bisa melanjutkan keinginan besar untuk belajar desain grafis selama masa kuliah berlangsung.

Apparently, this alternative direction led me to one of the greatest experiences in my life.

Siapa bilang belajar komunikasi gampang? Uh huh, you got it wrong, pal. Ada banyak banget hal yang perlu dipahami untuk mendalami ilmu komunikasi. Even though I only learnt the basic, basic-nya itu justru cukup complicated lho. Mungkin bagi yang tidak mendalami komunikasi, akan jarang mendengar apa itu komunikasi intrapersonal, interpersonal, kelompok, massa, hingga budaya. Lalu ada juga pelajaran Ilmu Alamiah Dasar (IAD) dan Statistika Sosial, walaupun fakultas saya tergolong dalam fakultas humaniora. Bayangin, saya belajar lagi IPA dan matematika lho di bangku kuliah!

Istilah "We Can Not Not Communicate" dari Paul Watzlawick dan "Who Says What in Which Channel to Whom with What Effect" dari Harold Laswell pun sudah di luar kepala, saking keduanya merupakan bagian dari prinsip dasar ilmu komunikasi. Dua kalimat itu kalau dijabarkan bisa panjang, bahkan butuh satu semester untuk memahaminya; jadi jangan berharap saya akan menjelaskannya di sini karena ini bukan materi kuliah! Ini cuma curhatan di blog pribadi, hahahaha.

Lalu saya juga belajar lebih dalam tentang Bahasa Indonesia, Public Speaking, dan Fotografi. Nah untuk Public Speaking, ini jadi tantangan terbesar bagi saya karena saya bukanlah orang yang gemar berbicara di depan umum. Pastinya kalau bicara di depan umum saya gugup parah, ngomong jadi ngebut, dan merasa takut ada kejadian konyol! But hey, I'm a communication science student, and speaking is definitely one of the essential parts of communication. Ya saya mau nggak mau harus berani ngomong lebih banyak dong.

Fotografi? Ini nih mata kuliah yang membuka mata saya lebar-lebar soal bidang seni ini; sampai sekarang saya kerja sambilan jadi fotografer lepas. Pastinya saat pertama kali belajar fotografi, saya senang bukan main. Sejak SMA saya memang sering jadi 'tukang motret' entah di acara keluarga atau acara di sekolah. Akhirnya salah satu passion saya ini bisa semakin saya kembangkan ketika berada di bangku kuliah.

Itu baru di semester pertama. Semester kedua lebih rame lagi; mulai pengenalan tiga jurusan ilmu komunikasi dan materi perkuliahannya makin spesifik. Jadi di kampus saya (sampai angkatan 2012) program studi Ilmu Komunikasi dipecah lagi menjadi 3 jurusan: jurnalistik, hubungan masyarakat, dan manajemen komunikasi. Salah satunya akan dipilih sebelum semester 3 dimulai. Jadi mahasiswa ilkom akan terpecah ke jurusan masing-masing sesuai minat.

Yap, sesuai minat. Ini ibarat kata sampai lulus nanti jurusan yang dipilih bakal jadi 'jalan hidup' mahasiswa, di luar kemungkinan nanti setelah jadi sarjana mau bekerja sebagai apa. Makanya di sini mahasiswa harus berpikir sangat matang jurusan apa yang akan diambil pada tahun kedua.

Bagaimana dengan saya? Beruntung saya nggak mengalami masa krisis memilih jurusan karena sedari awal sudah memantapkan hati untuk bergabung dengan jurusan jurnalistik.

Di samping itu, ada lagi yang seru di semester 2: komunikasi lintas budaya! Nah ini nih salah satu mata kuliah paling menantang karena tugas akhirnya adalah membuat festival budaya! Di sini saya pernah cerita tentang gimana perjuangan mempersiapkan festival sampai akhirnya harus berpisah dengan teman-teman kelas Ilkom D. Kelas saya waktu itu mendapat negara Jerman (kelompok saya) dan Inggris.

Selama 1 tahun pertama saya juga berjumpa dengan teman-teman baru yang memiliki beragam karakter, pengalaman, dan sikap. Senang rasanya bisa sekelas dengan anak-anak Ilkom D yang rame dan seru! Kami sering main bareng, BBQ-an bareng di rumah Hiji, sampai jalan-jalan ke Bandung juga Kawah Putih. Satu hal yang paling saya nggak bisa lupakan, di saat saya sedang down parah saat semester 2 karena suatu hal, mereka men-support mental saya. Love you, Imbisilkom D!

Tuntas episode ilkom, saatnya beralih ke chapter berikutnya: jurusan jurnalistik.

Jurusan jurnalistik bersama jurusan lainnya pernah mengadakan presentasi di hadapan para mahasiswa sebelum memutuskan hendak ke mana mereka akan berlabuh di semester 3. Salah satu ciri khas jurusan jurnalistik tiap presentasi: bukannya promosi tapi malah membeberkan cerita seram dan keras tentang bagaimana sulitnya menjadi jurnalis, menghadapi model narasumber dari yang riweuh sampai berbahaya, dan gajinya yang tak seberapa.

Jadi jiper atau mundur? Saya sendiri nggak.

Nah, gimana ceritanya jadi mahasiswa jurnalistik selama beberapa semester ke depan ya?
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

I found it on Twitter and I guess this is an interesting challenge! Music is always being a part of my life, because I listen to music anytime. I even listen to music when drive my motorbike (well using earbud is safer than the in-ear-monitor), but it's not for everyone; stay safe on road!

On the next days I will be posting this regularly, so probably this could be a new thing for my blog and I can share to you about what songs I usually listen to.

Well I will post the very first challenge:

DAY 1: A song you like with a color in the title



Vertical Horizon - Best I Ever Had (Grey Sky Morning)

So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I'm here to stay
Love can be so boring 

What was it you wanted
Could it be I'm haunted

...
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Itinerary is crucial to determine which places you will visit, what transportation you’d use, and what activities you’d do on your trip. Making itinerary might be not very exciting for some of you, but actually it really helps you to plan your activities and discover any places you want to come by –especially when you have never known about it– so I can say it’s challenging yet fun.

To be honest I partly agree with let’s-see-what-happens-there idea for your trip, but I still think that itinerary is needed. Without planning, you will waste a lot of time on trivial stuff that you could have easily done at home then you end up missing a lot of great things.

Based on my experiences listing any idea to arrange an itinerary, there’re some important things to consider plus the explanation on each points.

Where are you going? 
Are you visiting one city or more than two cities? If you want to visit more than two cities, of course it requires more work but trust me, itinerary is going to help you a lot especially to arrange your time on the road. Then is it still in your country or abroad? Make sure you check your passport and its expiration date also visa requirements (if needed).

How many days you will spend in your destination?
Three days, seven days, or two weeks? More days, more activities to do, more places to visit.

How many persons will be going with you?
(If you do solo traveling, you can skip this question)
Is it just 2-3 persons, more than 5, or even 20 persons? Make sure you talk about the itinerary with your travel companions. Ask about what places they want to look up, what activities they want to do, then you can combine your plan with them. Also, don’t forget to list their preferences during trip, decide what kind of transportation to use, and choose the best accommodation for your group. It’s very important to do this since every single person has different views and wants. Don’t let your trip get ruined by conflicts that happen among you and your traveling partners.

With whom you are going to your destination? 
Are they your friends, parents, or siblings? Are they at the same age, older, or younger than you? I’d say this will affect your plan because age does matter to your stamina. Taking vacation with friends won’t be the same as your trip with parents. You can plan lots of places to visit, but when it comes to your parents, their stamina probably isn’t as strong as yours anymore. It also applies to kids, they can be irritable easily if they’re exhausted, so be more careful to arrange your plan. Related to this, I categorize some plans based on the intensity of your trip: ambitious, moderate, and relaxed.
  • Ambitious: I call it ambitious if you have so many things to do in your schedule and you don’t want to waste your time. As the result you only have little time to rest. I think it’s suitable for you who have short trip but you want to visit lots of places.
  • Moderate: Time to do activities, visit some places, take a rest, and spend your spare time are balanced.
  • Relaxed: From its name, it’s obvious that you really take your trip so easy. You still have list of places to visit but you don’t want to rush anything. Your schedule is flexible due to condition at that time. If you travel with kids or parents, this kind of intensity seems perfect for you.
What transportation you’d use to get there? 
By airplane, car, bus, train, ship, or even motorcycle, you decide. In your itinerary, write down the airplane, bus, ship, or train schedule along with the code. You don’t need to check the ticket back and forth only to see the code. Just check on your itinerary and everything goes well.

Where are you going to stay? 
Is it hotel, hostel, friend’s house, or a room you rent from Airbnb? It really depends on your budget. I suggest you to choose place to stay that is close to train or bus station. Choosing accommodation near a mini market is also recommended. Don’t forget to write down the full address and phone number on your itinerary!

What places you are going to visit? 
This is the exciting part! You need to list this categories:
  • Places that on your top priority. You’re having this trip because you want to see those places so bad. No excuse to cancel this!
  • Places you want to visit. Maybe you want to go there because of curiosity or recommendation from a friend.
  • Places you think they’re least important. If you cancel visiting them, no need to worry. This part is more flexible especially when you change your mind because of something more interesting you find there.
What activities you will do in your destination? 
Related to no. 7, there must be any activities you must do and cannot be moved to other day; for example, you’ve bought concert ticket of your favorite band or ticket to visit an amusement park. It will be your priority, the rest of it will depend on location you visit that day and the length from one place to another.

What transportation you’d use in your destination? 
You can use local public transportation like MRT, bus, or taxi. If the local transportation has interesting rate package for tourist, you better check it and maybe buy it in order to save money. For example, I bought 3 days pass for MRT and bus in Singapore only for $20 (plus deposit $10 that will be returned), and it really saved my money and time. I didn't have to refill the prepaid card every time; just tap and you're okay to go.

Rented car or motorcycle is a good choice if you move a lot around the city and the transportation system doesn’t support your needs.

How long it takes to move from one place to another? 
Remember, always count how much time you will need to take any transportation from one checkpoint to other. Don’t forget to check the schedule on the nearest train or bus station.

In addition, always bring the map of your destinations and route map of its public transportation. Nowadays you can rely on any mobile applications that provide the route or map you need, but I think the manual one is still very useful; if your cellphone runs out of battery and you need to see the map, don’t panic!


That is the example of my itinerary to Singapore last year. I know it wasn’t too perfect but after many trips I had, I’ve learnt lots of thing about making itinerary and having an awesome trip.

Itinerary is a guidance for you to determine which places to see or what activities to do during your trip. You have better chance not to waste your time because you already arrange all things based on your needs, but of course you're allowed to do something beyond your schedule; well, always be spontaneous!

Enjoy your vacation!

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

The Writer

The Writer

Categories

travel Trip Experiences thought photography Solo Travel Spain Study

Popular Posts

  • Reasons
  • JPN Part 3: Between Samurai & Homestay
  • Bali: An Unexpected Trip

Instagram

@pspratiwi



Blog Archive

  • ▼  2019 (1)
    • ▼  October 2019 (1)
      • Accidentally Mixing Spanish & English!
  • ►  2018 (8)
    • ►  December 2018 (2)
    • ►  August 2018 (1)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  February 2018 (1)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (8)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  April 2017 (2)
    • ►  March 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (11)
    • ►  December 2016 (2)
    • ►  July 2016 (1)
    • ►  May 2016 (1)
    • ►  April 2016 (5)
    • ►  January 2016 (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  July 2015 (2)
    • ►  June 2015 (1)
  • ►  2014 (4)
    • ►  December 2014 (3)
    • ►  October 2014 (1)
  • ►  2013 (5)
    • ►  November 2013 (2)
    • ►  March 2013 (1)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (12)
    • ►  December 2012 (1)
    • ►  November 2012 (2)
    • ►  August 2012 (1)
    • ►  May 2012 (4)
    • ►  February 2012 (4)
  • ►  2011 (16)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (1)
    • ►  June 2011 (3)
    • ►  April 2011 (2)
    • ►  March 2011 (2)
  • ►  2010 (4)
    • ►  December 2010 (3)
    • ►  September 2010 (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  December 2009 (1)

Created with by ThemeXpose