• Home
  • About
  • Contact
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram Email

Curlnology


Last but not least! Ini cerita saat malam terakhir stay di Singapura (Trip saya 4 hari 3 malam). Rencananya, di hari ketiga ini pula saya mau mendatangi tempat yang jaraknya berjauhan, makanya di itenerary day 3 lebih sedikit daftar tujuannya. Tapi di hari terakhir ini semua tempat tujuan bisa didatangi meskipun nggak semuanya bisa tereksplor oleh kami.

Day 3
Destinasi pertama yaitu China Town. Di sini ibu pengen jalan nyari oleh-oleh, saya juga pengen lihat China Town kayak gimana suasananya. Tapi sayang banget, saya cuma bisa jalan-jalan sedikit di sini (karena nggak sanggup jalan jauh), jadinya daerah ini nggak sempet keeksplor semuanya. Kami cuma numpang makan siang sama lihat-lihat bentar di pusat perbelanjaan dekat stasiun MRT-nya. Alhasil sedikit banget spot yang bisa saya foto.


Setelah itu, saya dan ibu memutuskan untuk langsung berangkat ke Sentosa Island. Di sana kami hanya ingin jalan-jalan dan lihat wahana yang ada di sana tanpa ke Universal Studio Singapore. Setelah nyambung 1 atau 2 stasiun MRT, tibalah kami di VivoCity Shopping Mall. Tempat ini ibaratnya jadi connector bagi wisatawan yang mau nyeberang ke Sentosa Island. Setahu saya ada beberapa cara untuk ke sana; jalan kaki, naik Cable Car (kayak gondola gitu), naik shuttle bus, taksi, atau naik Sentosa Express (semacam monorail train). 

Saya dan ibu memilih naik Sentosa Express saja. Karena tiket keretanya nggak termasuk tanggungan Singapore Tourist Pass (STP), kami harus beli tiketnya dari loket yang tersedia. Bagi yang punya Ez-Link card bisa masuk pake ini kok. Bermodalkan $8 berdua, kami bisa masuk ke Sentosa Island dan bebas ke mana saja (kecuali untuk atraksi atau wahana tertentu).



Kalau naik Sentosa Express, bakal ada 4 titik pemberhentian: Sentosa Station, Waterfront Station, Imbiah Station, Beach Station. Saya dan ibu mendatangi stasiun paling ujung lebih dulu, yaitu Beach Station. Yap, di sini ibaratnya kayak kompleknya pantai. Di sini tempatnya bagi wisatawan yang mau main air, berenang, main olahraga pantai, atau lainnya. Saya sempet mendatangi beberapa pantai, meskipun nggak pake acara main air atau nyebur di sana. Dari pantainya, saya bisa ngelihat banyak kapal tanker dari kejauhan. Pemandangan yang cukup unik kalo menurut saya.

Karena di sini modal utamanya jalan kaki untuk jelajah semua wahana, pastinya saya yang keder. Sempet istirahat saat jalan-jalan, saya cek kaki saya. Pantesan aja saya selama ini jalannya sakit luar biasa. Di telapak kaki sebelah kanan, di bagian yang keras (di bawah jari), ada lingkaran putih cukup besar di sana. Yak, kapalan. Ini nih biang keroknya. Mungkin karena saya jalan-jalannya pakai sepatu tertutup. Padahal sebelum-sebelumnya nggak pernah kayak gini, lho. Alhasil saya dan ibu keliling kawasan pantai pakai beach tram; enak, tinggal duduk dan lihat-lihat sekitar.

Beres dari kawasan pantai, kami pindah ke tempat berikut: Imbiah Station. Di sini tuh ada patung Merlion yang guedee banget (bahkan Merlion aslinya aja kalah gede), tulisan sentosa island yang unik, dan beberapa wahana berbayar. 



Nggak lama dari kawasan ini, saya dan ibu menuju lokasi terakhir; Waterfront Station. Di sinilah USS berada. Tapi kami di sini cuma lihat-lihat (dan duduk pastinya), sama foto di depan globe USS. Biar afdol aja pernah ke sana walaupun nggak main di dalamnya, hahaha.

Tapi di sini saya sempet nyicip salah satu snack yang dijual, yaitu popcorn Garrett. (As a big fan of popcorn, I should try all the popcorn from everywhere!) Untuk butter popcorn size medium seharga $5 lumayan buat saya, karena isinya ternyata banyak (ini saya makan sepanjang jalan dan baru abis pas di hotel lho). Udah gitu butter-nya itu lho, berasa banget! Lihat aja dari fotonya, kuning banget kan? 


Setelah puas ngubek-ngubek Sentosa Island (well, not really), saya dan ibu sempet lihat-lihat sebentar di VivoCity. Tapi habis itu langsung bergegas menuju destinasi berikutnya: Orchard Road! Lha kok ke sana lagi? Saya kepengen banget nyicip eskrim+roti di sana, hahaha! Rasanya nggak pol banget kalo belum nyobain langsung jajanan paling terkenal di sini. Tapi alasan lainnya sih saya dan ibu mau nangkring sebentar sebelun kami berangkat ke Singapore Flyer.

Kami rencananya mau naik SG Flyer saat malam nanti. Jadi saya bisa lihat nightview-nya SG dari ketinggian, plus hunting foto. Well, sempet was-was juga sih karena di kawasan Orchard Road udah kelihatan mendung. Takutnya di daerah SG Flyer mendung & gelap juga.

By the way... Akhirnya saya dapet eskrim+rotinya! Saya pilih eskrim rasa blueberry dan... enak banget! Mungkin nggak ada bedanya dengan eskrim lainnya ya, tapi saya suka aja sama eskrim yang satu ini, pake roti pula. Untuk eskrim+wafer harganya tetep $1, tapi kalo eskrim+roti sekarang harganya udah jadi $1.20 nih.


Sekitar pukul 5 sore, saya dan ibu berangkat ke SG Flyer. Seperti biasa, kami mengandalkan MRT. Setibanya di stasiun terdekat, kami harus jalan sedikit sampai akhirnya tiba di tempat tujuan. Ternyata pas nyampe di sana, cuacanya cukup cerah. Tapi waktu itu masih terang, jadinya nggak langsung masuk ke arena SG Flyer-nya.

Saya dan ibu duduk-duduk di pinggir sungai, sambil ambil foto dan lihat pemandangan di sekitar. Dari kejauhan saya bisa lihat suasana perkotaan SG yang kental dan bangunan yang ada di Gardens by The Bay. Di tempat yang saya duduki juga nggak jauh dari jalan yang biasa dipake untuk balap F1.



Kalau nggak salah, saya dan ibu masuk ke arena SG Flyer sekitar jam 7 malam. Pokoknya saat itu udah cukup gelap. Prosesnya nggak ribet saat masuk ke sini. Mungkin berhubung saya udah beli tiketnya dari jauh hari, jadinya cukup nunjukkin tiket yang di-print, petugas tinggal scan, dan kami bisa masuk langsung.

Ternyata sebelum masuk ke flyer-nya, kami harus melewati lorong dan 'museum' tentang sejarah dibangunnya atraksi wisata satu ini. Simulatornya keren lho btw, tapi saya nggak sempet foto karena buru-buru pengen masuk ke flyer-nya, hehehe. Terus di sini pengunjung sempet difoto oleh staf di sana dengan latar green screen.

Akhirnya kami tiba di ujung lorong, dan staf di sana membatasi pengunjung yang mengantri. Untuk satu flyer (mungkin ada istilah lain yang lebih tepat?), maksimal diisi oleh 8 orang. Pas banget, nggak lama saya di sana, saya dan ibu disuruh langsung masuk ke flyer yang sudah tersedia. Di dalam, kami bersama 4 anak muda dan 1 couple.



Flyer pun bergerak dengan sangaaaat lambat. Nggak berasa tapi lama-lama makin ke atas (ya iyalah!), mulai ninggalin tempat saya naik semula. Di sini saya mulai panik. Saya phobia ketinggian. Makin tinggi flyer-nya, saya makin diem, gemeteran, dan deg-degan. Saya nggak berani lihat ke bawah sama sekali. Bawaannya kayak mau jatuh aja rasanya. Pas jalan-jalan di dalem aja saya kayak orang yang lewatin pinggir jurang; jalan pelan, minggir terus, dan megangin pinggiran flyer-nya terus.

Tapi makin ke atas, saya makin nggak nyesel udah naik flyer ini. Iya, pas naik saya sempet nyesel karena takut banget sama ketinggiannya. Ternyata makin ke atas, view-nya makin oke!!

Biarkan foto-fotonya yang bercerita, karena saya sendiri pas lihat pemandangannya langsung cuma bisa diem, takjub, dan hening sendiri. Tapi abis itu motretin ibu saya juga sih, hahaha.





Yah bisa nilai sendiri lah view-nya kayak gimana. Kalo saya sendiri sih speechless. Sebagai orang yang doyan ngeliatin citylight atau cityview, pilihan yang satu ini bener-bener nggak mengecewakan. Ini salah satu opsi wisata yang oke bagi yang punya kegemaran serupa. 

Durasi naik flyer ini sekitar 30 menit dari awal masuk sampai turun. Yang pasti, titik the best saat naik flyer adalah ketika flyer yang saya naiki berada di ketinggian tertinggi & pemandangan kota SG kelihatan banget!




Beres naik flyer, saya dan ibu nyempetin jalan di sekitar Helix Bridge. Jembatan ini ternyata makin kece saat malam, karena lampu birunya yang bikin semarak. Di kawasan ini juga lagi cukup rame karena lagi ada pertandingan bola. Ah iya, di sini juga banyak yang suka hunting foto lho, terbukti dari beberapa orang yang nenteng tripod dan kamera ke mana-mana. Kayak foto di atas, itu salah satu view yang bisa didapet.

Ternyata di sini saya juga nemuin pedagang eskrim $1! Walopun udah nyobain sebelumnya, tetep aja saya gatel pengen beli lagi. Saya akhirnya nyicip eskrim rasa chocochip mint. Asli, yang ini juga enak banget.



Last Day: Day 4
Selesailah acara pelesiran saya dan ibu di SG. Karena bawaannya makin berat, kami memilih untuk langsung berangkat ke Changi Airport pukul 11 siang waktu setempat, 1 jam sebelum batas waktu checkout. Tujuannya yaitu biar bisa keliling di sana sekaligus makan siang. Nah, karena STP kami cuma berlaku 3 hari (which is pemakaian terakhir adalah kemaren), jadinya saya dan ibu beli tiket MRT langsung di stasiun. Dari Bugis ke Changi cuma $2.20 per orang.

Kayaknya udah jadi rahasia umum betapa besar dan megahnya Changi Airport. Nggak heran kalo dari pintu masuk MRT ke bandara lalu menuju loket check in pesawat saya itu ujung ke ujung banget, hahaha. Jaraknya emang lumayan, yah kayak La Piazza ke Mall Kelapa Gading 3 (yang tahu dan tinggal di Klp. Gading pasti paham). Bayangin aja, konter check in-nya panjang dan banyak banget.

Sebelum masuk ke ruang keberangkatan, saya ngurus dulu GST refund. Karena sudah di-approve oleh pihak Mustafa Center, saya sudah memegang struk+cap toko bersamaan dengan barcode-nya. Di konter yang ada di Changi, pertama kita tinggal pilih salah satu mesin, lalu ikuti instruksi yang ada. Jangan lupa siapkan paspor dan struk dari tokonya ya. Habis itu bakal dapet struk persetujuannya, jadi nanti di ruang keberangkatan tinggal antri dan tukar struknya dengan nominal uang yang sudah dicantumkan.

Di ruang tunggu keberangkatan, yang gede banget ini, saya dan ibu iseng lihat-lihat beberapa counter. Mulai dari barang dengan brand mahal sampe toko obat yang ada di mall di Jakarta, semua ada di sini. Saya sendiri pernah denger soal adanya sunflower garden di Changi, saya pun iseng ke lantai 3 (ninggalin ibu sendirian, maafkan anakmu ini ya).

Bayangkan, saat itu di SG lagi terik-teriknya, lalu saya keluar dari ruangan yang suhunya dingin. Mentereng banget!



Nggak jauh dari pintu menuju sunflower garden, saya ngeliat ada beberapa ruangan bagi yang mau nonton film, dengerin musik sendirian, nongkrong di kafe, atau main game online. Gile ye fasilitasnya. Itu semuanya free lho (kecuali kafe ya). Termasuk fasilitas yang satu ini, main PS4. Saya nyobain main lah, hahaha.


Karena terpisah dari ibu, saya pun mulai nyariin ibu. Ya bayangkan Changi yang gede banget, terus saya dan ibu saling cari. Mana lagi agak ruwet di sana. Setelah sempet nyerah nyari keberadaan ibu & kaki saya semakin menjadi-jadi sakitnya, saya nemu mesin pijat yang lagi nggak dipake. Udah deh, saya langsung sikat. Sambil ngehubungin ibu via WA, saya diam aja di sana biar lebih gampang ketemunya nanti.

Rasanya gimana? Pokoknya saya lega banget bisa nemu alat ini. Kaki sakit edan selama 4 hari bisa terobati sementara. Sekitar 45 menit kemudian, saya bisa menemukan ibu. Pantesan aja nggak ketemu, saya di dekat ruang keberangkatan pesawat saya, eh ibu ada di ujung tempat kami masuk semula.



Pukul setengah 6 waktu setempat, saya dan ibu bergegas untuk boarding. Pesawat kami berangkat pukul 18.10 waktu setempat dan kami tergolong mepet masuk ke pesawat.

Akhirnya beres sudah cerita saya menjelajahi negeri tetangga. Semoga nggak bosenin dan saya berharap bakal ada cerita jalan-jalan berikutnya. Selamat jalan-jalan dan liburan!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Day 2
Hari kedua di SG, saya sudah menyiapkan rencana untuk jalan-jalan ke kawasan Haji Lane. Berhubung lokasinya dekat dengan hotel, jadinya saya dan ibu cukup jalan kaki menuju ke sana. Sayangnya pas nyampe, mayoritas toko yang ada di sana masih tutup. Padahal waktu itu saya jalan ke sana sekitar pukul 10 pagi. Karena di hotel kami nggak mendapat sarapan, akhirnya saya memutuskan untuk sarapan di Kampong Glam cafe. Beli makannya pun ala-ala warteg seperti di Indonesia; diambilkan oleh penjaga cafenya lalu langsung bayar.




Setelah sarapan, saya dan ibu kembali lagi ke Haji Lane. Belom afdol rasanya kalo belum foto di sana, hahaha. Puas foto-foto, kami melanjutkan perlajanan menuju Little India. Jaraknya 1,7 km dari titik ini. Ah, saya kira cukup dekat kalo mau dijangkau hanya dengan jalan kaki. Akhirnya saya dan ibu jalan kaki menuju Little India. Setibanya di Little India, saya baru sadar kalau jalan kaki di siang bolong itu adalah kesalahan, terutama bagi kaki saya....



Well, di Little India nuansa India-nya jelas kental sekali (jelas lah). Dari ornamen rumah/tokonya, orang-orang yang seliweran di sana, dan wewangiannya. Saya sempat memotret salah satu kuil umat Hindu di sana yang menurut saya bangunannya unik banget, yaitu Sri Veeramakaliamman Temple. Setelah itu ada pula Masjid Angullia.



Setelah melewati kuil dan masjid itu, saya dan ibu memutuskan untuk langsung jalan ke Mustafa Center untuk nyari oleh-oleh. Waduh hari kedua udah nyari oleh-oleh aja. Sebenernya bukan oleh-oleh yang borongan gitu sih, ibu saya cuma pengen beli cokelat buat bapak dan beberapa tetangga aja. Saya sendiri di hari kedua masih berusaha hemat dulu, hahaha. Letak Mustafa Center pun nggak begitu jauh dari kuil ini, nggak nyampe 10 menit sudah nyampe kok.

Setibanya di Mustafa Center (MC), saya cukup bengong ngeliat sebegitu banyaknya barang yang ada di sana. Toko perbelanjaan ini bisa disebut sebagai pusat oleh-oleh serba ada, bahkan harganya pun tergolong murah. Dari makanan, minuman, snack, kosmetik, parfum, elektronik, peralatan rumah tangga, sepatu, sampe baju renang ada di sini semua. Nah ada satu barang yang bikin saya kalap di sini sampe puyeng mau beli yang mana: parfum!

Saya lagi nyari parfum yang wanginya 'saya banget'. Setelah parfum Elizabeth Arden Green Tea Honey Suckle dan GAP Dream More saya habis, otomatis saya mesti nyari yang baru lagi tapi masih bingung mau yang mana. Lihat etalase parfum di MC.... saya makin bingung, hahaha!! Etalase parfum di sana puanjaang banget. Dari yang merk drugstore sampe yang branded, semuanya ada dan sama-sama dipajang di rak kaca. Udah gitu tester-nya hampir semua ada, makanya saya sampe bingung mau milih yang mana. 

Mungkin saya ngabisin waktu di sana selama 1 setengah jam, demi mencari parfum incaran. Tapi Alhamdulillah akhirnya setelah hidung sampe blenger nyiumin lebih dari belasan botol, saya dapet parfum (dan harga) yang cocok! Saya memilih Banana Republic for Woman EDP, dan untuk adik saya belikan Kenneth Cole Reaction EDT. Harganya luar biasa murah untuk BR, cuma $29 lho! Di Jakarta malah dua kali lipat harganya.

Beres dapet cokelat dan parfum, kami kemudian nyari stasiun MRT terdekat. Tujuan berikutnya adalah Clark Quay (CQ). Sayangnya, saya nggak sempet eksplor banyak ke bagian CQ-nya banget (yang ada restoran warna-warni) karena karena masih siang, belum ada apa-apa. Di sana kami cuma sebentar dan numpang makan siang aja. Saya juga buru-buru mau ke destinasi selanjutnya yang lebih diincar.



Pernahkah mendengar Southern Ridges? Jembatan yang berada di Henderson Road ini menurut saya menarik banget. Apalagi kalau lihat desainnya, wiiih keren! Untuk ke daerah ini, saya dan ibu harus menuju ke wilayah Singapura bagian selatan. Saya dan ibu naik MRT dulu, lalu nyambung lagi ke dekat jembatannya dengan menaiki bus. Sesampainya di sana, kok nggak ada pintu masuknya?

Memang kalau mau ke Southern Ridges, setibanya di halte bus terdekat baru bisa lihat jembatannya; posisinya tinggi banget. Nah sempet bingung dan nanya ke warga setempat, saya dan ibu akhirnya bisa menemukan jalur masuk menuju jembatan ini. Mencari jalan setapak ke atasnya emang pe'er banget. Kita harus masuk ke sejenis taman hutan dulu, abis itu bakal ketemu jalan tanjakan menuju jembatannya. Ada peringatan supaya tas gembolan atau jinjing tidak dibawa/disembunyikan karena ada monyet liar yang bisa aja muncul dan tertarik ngambil barang kita. Untungnya sepanjang jalan ke jembatan, nggak ketemu sama monyet.

Pas nyampe di atas, worth it banget rasanya setelah berjalan di tanjakan yang cukup panjang. Jembatannya keren, view-nya kece.






Setelah puas istirahat dan foto di sana, saya dan ibu kembali turun lagi dari jembatan. Rasanya lebih cepat dan ringan dibanding saat pertama kali naik, hahaha. Kami pun kembali menaikki bus untuk kembali ke MRT yang sama sebelumnya. Tujuan berikutnya adalah Orchard Road.

Nah di perjalanan menuju Orchard Road, kaki saya udah kerasa sakit banget. Bukan pegel lagi rasanya, tapi bener-bener sakit di telapak kaki sampe dengkul. Saya agak menyesal kenapa harus jalan kaki dari Haji Lane ke Little India, padahal sebenernya jaraknya lumayan jauh. Ya lebih sehat jalan kaki sih, tapi gimana nih kalo kaki udah sampe sakit luar biasa gini. Ini kali pertama saya ngerasain kaki sesakit-sakitnya akibat jalan, padahal udah sering jalan kaki sebelumnya. Sedihnya, kaki saya yang sakit ini pengaruh banget ke rencana perjalanan saya berikutnya...

Sesampainya di Orchard Road, ternyata lagi ada display Hulkbuster-nya The Avengers!


Belom afdol rasanya kalo nggak kulineran di sana. Selain nyari info tentang eskrim seharga $1 di Orchard yang oke itu, saya sempet nemu tentang cheese french fries-nya Omakase Burger yang katanya enak banget. Awalnya sempet bingung karena tahu restonya cuma ada di Bukit Timah. Eh taunya ada juga di Orchard, yakni di Wisma Atria Shopping Center. Akhirnya saya dan ibu nyobain cheese french fries-nya. Harganya lumayan untuk ukuran reguler, seharga $7, tapi ternyata rasanya oke! Nggak begitu bikin eneg kalo habis makan keju dalam jumlah banyak.


Setelah itu kami jalan-jalan aja di seputar Orchard Road. Nah pulangnya saya dan ibu terpaksa banget balik lagi ke Mustafa karena sebelumnya lupa minta form GST refund yang ternyata lumayan banget kalo diambil. Kalau belanja dalam 1 hari berjumlah di atas $100, biasanya di MC kita bisa minta form refund pajaknya yang bisa ditukar nanti saat kepulangan di bandara. Bagi turis (apalagi yang belanjanya banyak banget), biasanya GST refund is a must karena jumlah uang pajak yang dikembalikan jumlahnya lumayan kalau ditukar ke IDR lagi; apalagi kalau SGD lagi tinggi-tingginya.

Jalan dari MC kembali ke hotel, rasanya kaki saya udah ampun-ampunan sakitnya. Kaki diluruskan aja udah kayak mati rasa. Istirahat untuk esok hari, karena daftar perjalanan masih panjang!

Oh what a day!


(Part 3 is coming soon ya!)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Rencana liburan saya sudah lama tertunda. Awalnya sih pengen setelah beres semester 7, tapi saya masih harus ngurus job training a.k.a magang (yang sempet bermasalah gara-gara miskomunikasi). Akhirnya barulah saya mulai magang dari Februari sampai April akhir di sebuah portal news di Jakarta.

Sebenernya saya pengen saat bulan April bisa berangkat liburan. Bahkan dari Desember saya udah beli tiket pesawat. Tapi berhubung waktu itu saya masih magang dan adik saya juga baru masuk magang, akhirnya terpaksa tiketnya dihanguskan. Walaupun begitu, saya bisa dapet refund. Kenapa?


Karena waktu itu saya pesan tiket ke SG dengan keberangkatan dari Bandung, dan tanggal pulang saya pas banget di tanggal acara KAA (23-24 April), jadinya dari pihak maskapai dibatalkan dan bisa refund. Saya bersyukur dan senang banget karena uang hasil refund-nya bisa saya pakai untuk rencana liburan yang baru, hehehe.

Akhirnya pada 11 sampai 14 Mei, saya bisa berangkat liburan ke negara tetangga, yaitu Singapura. Saya berangkat bareng ibu yang menemani saya di sana, beliau juga sekalian liburan. Dari sebulan sebelumnya saya udah pesan tiket pesawat dan hotel. Selebihnya dilakukan dadakan, seperti bikin itenerary dan pesan tiket untuk naik Singapore Flyer.

Saya sempat khawatir karena sebelum berangkat, saya baru cek cuaca di SG bakalan hujan dan mendung sepanjang hari Senin-Kamis. Tapi saya cuma bisa berdoa supaya cuacanya oke, kan sayang banget mau naik SG Flyer, eh malah hujan... :')

Day 1
Sempat nunggu lama di Terminal 2 dan di boarding room karena pesawatnya telat sampai, saya dan ibu berangkat menuju SG. Sejauh ini, cuacanya cerah cenderung panas.

Begitu sampai di Changi, satu hal yang saya sadari yaitu Changi luas bangetbangetbanget. Saya dan ibu sempet nyasar saat harus ke imigrasi, soalnya bagian imigrasi kedatangan harus turun satu lantai. Ibu dan saya malah jalan terus sampai ke Terminal 2E (jauh banget dari tempat kedatangan awal dan bagian imigrasi). Sayangnya waktu kedatangan, kami nggak berlama-lama di Changi karena mengejar waktu untuk tiba di hotel sekitar pukul 3 sore waktu setempat. Di sana, waktunya lebih cepat satu jam dibanding Jakarta.

Selama di SG, saya memutuskan untuk menggunakan Singapore Tourist Pass yang berlaku selama 3 hari tapi bisa digunakan unlimited alias sepuasnya untuk MRT, LRT, atau bus. Dengan biaya $20 plus $10 deposit yang bisa dikembalikan dalam jangka waktu maksimal 5 hari, saya dan ibu bisa bolak-balik naik MRT dan bus sepuasnya menuju lokasi yang diincar tanpa perlu khawatir harus 'isi kartu' lagi.

Kesan pertama naik MRT di SG? Keren. Asli, keren banget. Kerennya dari segi fasilitas, ketepatan waktu MRT tiba, banyaknya MRT yang tersedia, kebersihan, dan aksesnya yang sangat mudah. Semuaya pun serba cepat, eskalatornya menurut saya 2 kali lipat lebih ngebut dibandingkan eskalator yang ada di mall-mall di Jakarta. Orang-orangnya pun di sini gercep (gerak cepat) banget, jujur ibu saya sampe kelimpungan saat harus menyesuaikan kecepatan orang-orang dan fasilitas di sini,

Hotel tempat saya menginap terletak di kawasan Bugis. Lokasinya strategis dan dekat banget dengan stasiun MRT, pusat perbelanjaan, supermarket, tempat oleh-oleh, dan restoran. Namanya 85 Beach Garden Hotel, dan menurut saya hotel ini recommended bagi yang traveling di Singapura maksimal 2 orang dan hanya mengincar hotel sebagai tempat istirahat saja. Setibanya di stasiun MRT Bugis, saya dan ibu sudah kelaparan karena waktu itu sudah lewat jam makan siang.

Akhirnya ibu dan saya makan di Bugis Junction di tempat yang sangat familiar: KFC. Tapi ternyata di sana menunya jauh berbeda lho (selain ayam ya). Dengan biaya $5.70, saya udah dapet satu mangkok besar dan porsi banyak Rice Bucket Curry dan minuman lemon tea. Lumayan bikin kenyang, tapi memang harganya cukup fantastis. Apalagi saat saya berangkat, Dollar SG lagi tinggi-tingginya, sudah nyaris menyentuh angka 10 ribu Rupiah. Tapi selama empat hari kemarin, saya dan ibu saya sebenarnya tidak terlalu perhitungan soal makanan karena kami agak kesulitan dan bingung mencari tempat makan yang halal; ketemu yang halal langsung sikat aja.

Dari Bugis Junction sampai ke hotel nggak butuh waktu lama, hanya 5 menit jalan kaki. Sampai di sana, saya dan ibu istirahat sebentar sebelum langsung pergi ke destinasi pertama di SG.

Dari sore sampai malam, kami jalan-jalan di sekitar Raffless Place, Merlion, Esplenade Theatre, Helix Bridge, Marina Boulevard, dan Gardens by The Bay. Sepanjang sore di sekitar tempat-tempat yang sudah saya sebutkan, banyak sekali orang-orang yang jogging atau lari di sana. Saya cukup amazed dengan pemandangan seperti itu karena tampaknya orang-orang di Singapura bisa dengan bebas berolahraga meskipun di tempat yang ramai dikunjungi wisatawan.








Everything's well-facilitated, jadi enak mau beraktivitas macam-macam. Nggak heran kalau Singapura menjadi salah satu negara tersehat di dunia dengan tingkat obesitas terendah, yakni 6,2 persen. Based on my experiences, di sana mau jalan kaki sampai kaki ledes juga sangat nyaman, karena fasilitas bagi pejalan kaki sangat terjamin. Ke stasiun MRT, ke toko-toko, ke tempat wisata, semuanya bisa dicapai dengan jalan kaki.




Malamnya saya dan ibu makan malam di Makansutra Glutton's Bay. Di sana pilihan makanannya banyak banget. Bahkan saya sampai salah pesan, karena nasi goreng Thailand $8 (yang katanya porsi 2 orang), ternyata banyaknya kayak porsi untuk 4 orang! Kebayang begahnya kayak gimana.

Jalan-jalan hari pertama pun ditutup dengan acara 'tersesat sedikit' karena bingung mencari stasiun MRT terdekat, berhubung di Esplanade Theater sedang ada renovasi dan sulit mencari pintu menuju MRT-nya. Untung saat pulang, saya sempat membeli sushi favorit saya, yaitu salmon maki dengan harga & rasa yang oke. Jadi saat tiba di hotel, rasa capeknya bisa terobati sedikit, hehehe.

Di hari kedua, perjalanan saya dan ibu semakin menarik lho. Saya dan ibu akhirnya mengeksplor beberapa tempat yang ternyata membutuhkan tenaga ekstra di tengah panasnya cuaca di SG. Don't miss the second part! I'll post it very soon.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
2014.

Lost something. Found something.
New experiences. New life lessons.
Trying. Struggling. Fighting.
Best friends. Buddies. New people.
Moving on.
It was such an amazing year.
Muchas gracias.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Punya rambut yang 'tidak biasa' di lingkungan saya menjadi hal yang cukup mengesankan. Rambut ini seolah-olah jadi hal aneh di antara arus mainstream rambut yang banyak diidam-idamkan beberapa perempuan: lurus, hitam, panjang. Awal mulanya saya kaget kenapa harus bernasib demikian, tapi makin lama saya makin bersyukur.

Saya bersyukur memiliki keunikan yang (mungkin) tidak banyak dimiliki orang lain, dan saya semakin merasa ini memang berkah bagi saya.

Saya terlahir dengan kondisi rambut yang biasa-biasa saja. Lurus malahan, nggak ada bakat-bakat menuju rambut keriting. Bahkan bapak dan ibu saya rambutnya lurus. Dari kecil hingga duduk di bangku SD, potongan rambut saya cuma satu: bondol alias pendek, tipis, poni belah pinggir, dan warna kecoklatan. Gara-gara rambut pendek pula saya sering disangka cowok, tapi untungnya masih bisa terselamatkan dengan anting segitiga yang dulu saya pakai semasa kecil.

Singkat cerita, saya mengalami perubahan yang aneh banget saat masih kelas 5 SD.  Waktu itu nafsu makan saya bertambah, sampai kurusnya hilang. Ya, sewaktu kecil saya kurus dan susah makan. Entah ada angin apa, kelas 5 SD saya jadi banyak makan dan akhirnya badan mulai berisi. Tapi, yang paling aneh itu ketika rambut saya tiba-tiba jadi keriting.

Nggak langsung mendadak sehari jadi keriting sih, tapi perlahan rambut saya mulai kelihatan bergelombang. Makin lama, makin terlihat keriting. Rambut saya waktu itu nggak begitu pendek kalo nggak salah, jadi makin terlihat lah keritingnya. Saya bingung. Ibu dan bapak juga bingung. Kenapa tiba-tiba rambut saya jadi keriting? Kalaupun memang ada gen keriting, kenapa baru pas saya sudah beranjak besar?

Penjelasan soal kenapa baru keriting saat kelas 5 SD sampai sekarang masih belum ada, tapi yang jelas saya ini memang ada turunan rambut keriting. Ternyata nenek dan kakek dari pihak bapak rambutnya keriting, jadi wajarlah kalo saya punya rambut keriting. Sepupu-sepupu perempuan juga kebanyakan keriting.

Keberadaan si keriting yang mendadak ini pasti jadi bahan guyonan temen-temen SD. Pasti pernah ngerasain gimana rasanya diledekin temen, dari yang ledekan omongan sampe main tarik rambut. Tapi hal yang paling berasa waktu itu buat saya sih ledekan-ledekan dari temen-temen. Saya waktu itu memang belom siap, karena saya sendiri masih kaget.

Dari ledekan, muncul pula julukan-julukan aneh. Saya nggak inget persis saya dijuluki apa sewaktu SD, yang pasti saya saat itu sudah jadi bulan-bulanan karena rambut saya yang keriting. Masalahnya keritingnya bukan keriting yang rapi; sampe sekarang saya aja nggak tau rambut saya ini keritingnya masuk ke kategori keriting apa, hahaha.

Beranjak dari SD, saya mulai menempuh pendidikan SMP di daerah yang berbeda. Waktu SMP, rambut saya makin menjadi-jadi. Saya juga sudah mulai memanjangkan rambut, karena kalau rambut keriting dipendekkin, saya nggak yakin hasilnya bakal bagus. Rambut megar parah, keritingnya nggak jelas, plus rambut saya yang tipis makin bikin saya nggak pede. Makanya saat kelas 1 dan 2 SMP saya sering banget pake topi; rambutnya diikat lewat bolongan topi *yang bisa dibuka itu lho*.

Saya waktu itu sudah terlanjur nyaman pakai topi, eh tiba-tiba waktu di sekolah topi saya hilang entah kemana. Saya sempet sedih juga karena itu topi kesayangan satu-satunya; topi hitam putih Rusty. Tapi semenjak hilangnya topi itu, saya akhirnya memberanikan diri untuk menggerai rambut saya.

Segala cara saya coba supaya rambut saya ini nggak begitu megar. Cara yang paling aneh yang pernah saya coba —dan cara ini yang paling lama dipakai— itu saya sehabis keramas pakai conditioner tapi nggak dibilas. Ya, nggak dibilas. Waktu itu belum ada yang namanya leave on atau krim rambut tanpa dibilas. Conditioner yang biasa saya pake itu yang harusnya dibilas setelah dipakai.

Cara itu cukup ampuh untuk meredam megarnya rambut saya. Tapi, makin lama bikin rambut saya nggak nyaman karena gerah dan jadi lengket. Menggelikan memang, tapi apa boleh buat. Waktu itu saya benar-benar berjuang gimana caranya supaya rambut saya nggak megar parah. Sampai kelas 1 SMA, saya masih mempertahankan cara itu sampe akhirnya menemukan leave on rambut yang fungsinya memang bukan untuk dibilas, hahaha.

By the way, waktu SMP juga jadi waktu yang cukup 'keras' bagi saya. Di sini saatnya saya jadi punya banyak julukan baru. Kibo, kriting, kiting, kribo, dan lain-lain. Jadi bahan ledekan? Sudah pasti. Waktu SMA? Wah lebih-lebih. Julukan juga makin nambah:

Undertaker (kalo pernah nonton Smack Down pasti tau)
Puyol (yang doyan bola pasti tau)
Limbad
Hagrid

Hagrid sih yang paling kena, soalnya kalo diliat-liat dulu rambut saya persis banget kayak rambutya Hagrid!

Tapi masa SMA justru jadi masa saya sudah bisa menerima kondisi rambut saya dengan lapang hati. Saya akhirnya bisa mengendalikan amarah saya ketika diledek teman. Saya akhirnya bisa pede dengan bentuk rambut saya yang memang aneh dari yang lainnya.

Makin ke sini, saya makin sadar untuk melakukan perubahan pada rambut saya. Saya butuh potongan rambut baru, karena sejak SMP sampai SMA saya nggak pernah berani untuk potong macem-macem.

Jujur aja, saya takut hasilnya gagal total dan akhirnya makin bikin rambut saya megar. Apalagi kalau ke salon, mayoritas treatment rambut lurus sama rambut keriting selalu disamaratakan, padahal beda banget sebenarnya. Sering banget pas rambut dikeringin malah di-blow (rambut ditarik pakai sisir gulung dan dikeringin sama hair dryer), padahal nggak perlu. Potongan rambutnya pun berpotensi fail besar-besaran karena sewaktu rambut basah kelihatannya fine-fine saja. Nah kalo udah kering? Waduh!

Jelang lulus SMA, saya akhirnya potong rambut tapi sempat gagal karena rambut saya dipapas lagi alias ditipisin -____- Rambut saya udah tipis, eh ditipisin lagi.

Sekarang saya juga makin aware dengan potongan rambut keriting yang sekiranya bisa diterapin di rambut saya. Saya sudah empat kali potong rambut, dan sekarang saya makin nyaman dengan rambut saya. Rambut saya di-layer supaya terlihat lebih rapi dan nggak begitu megar. Sudah lewat masa-masa rambut saya terlihat seperti Hagrid! 

Hairvolution part 1: (1-3) Masih balita sampai SD awal, masih lurus; (4-6) dari SD kelas 6 sampe awal SMA, udah mulai keriting; (7-9) Masa SMA, sudah mulai terbiasa.

Hairvolution part 2: (1-3) Kuliah semester 2-4, udah mulai nyoba potong rambut; (4-6) Masa-masa semester 5-6, udah terbiasa dengan rambut keriting sebahu; (7-9) Foto terakhir rambut panjang Oktober 2014, disambung dengan potongan rambut saat ini.

Kalo bicara soal rambut keriting yang ribet, pertanyaan satu ini pasti muncul: "Kenapa nggak di-rebonding aja?"

Saya sudah amat sering menerima pertanyaan itu. Entah dari saya SMP, saya memang nggak punya pikiran untuk meluruskan rambut saya. Saya juga nggak kebayang kalo rambut saya jadi lurus; sudah tipis, di-rebonding makin aneh kelihatannya. Kalo kata ibu saya, kayak orang abis kecebur got. Saya juga nggak mau ngerusak rambut saya, karena melihat hasil-hasil rebonding orang lain justru rambutnya jadi nggak sehat.

Tapi saya yakin kalo orisinalitas itu nggak akan bisa tergantikan oleh apapun.
Prinsip orisinalitas ini saya pegang sampai sekarang.

Kondisi ini yang akhirnya membedakan saya dari kebanyakan orang. Mungkin orang-orang nggak akan mengenal saya  kalo saya nggak punya rambut seperti ini. Mungkin nggak akan ada yang nyeletuk, "Oh Tiwi yang keriting?" atau saat di jalan atau di suatu tempat ada orang lain tiba-tiba nanya, "Rambutnya asli atau dikeritingin?"

I'd say that I'm so proud of my hair. Saya bersyukur punya rambut seperti ini, karena ini jadi salah satu ciri khas yang saya miliki. Tiap orang pasti punya keunikan tersendiri, dan keunikan yang saya punya itu dari rambut. Memang berat dan capek banget rasanya ketika harus menghadapi berbagai ledekan atau cercaan orang. Apalagi harus menghadapi tatapan orang asing yang rasanya bener-bener bikin saya nggak nyaman. Di lain sisi, saya merasa senang karena hal unik yang saya punya ini jadi berkah tersendiri bagi saya.

Kira-kira begitu sedikit cerita tentang rambut saya.

The point is, just be proud and be grateful of what we have.

Apapun yang kita miliki pasti ada hikmahnya; bisa jadi itu jadi bahan hinaan atau cercaan orang lain, tapi bagi kita itu sebenarnya adalah berkah yang nggak mungkin bisa didapat dari orang lain.

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Holla!

Berhubung masih nyari bahan untuk tugas Seminar dan stuck, saya mau cerita-cerita sedikit soal kegiatan terakhir jelang akhir tahun. Untuk pertama kalinya, saya udah nggak perlu pusing mikirin semester depan bakal kuliah apaan, karena semester depan saya udah mulai magang alias job training! Saya nggak sabar untuk mulai magang, karena akhirnya bisa praktik langsung dan udah cukup berkutat dengan segala macam tugas kampus yang nggak ada abisnya, hahaha. Di akhir tahun ini juga, saya bisa menikmati beberapa minggu setelah UAS untuk liburan, sebelum mulai magang Januari nanti.

Beneran deh, sama sekali nggak berasa kalo sekarang saya udah di penghujung semester 7. Saya kaget udah ngelewatin 3 tahun tinggal di Jatinangor. Selama itu pula saya ngelewatin semester demi semester, tugas demi tugas, liputan demi liputan, daan sebagainya. Tiga tahun nggak berasa, tapi kejadian-kejadian dan pengalamannya yang paling berasa. Kebetulan kemarin saya baru pergi dengan bapak dan Tito, sempat ngobrol soal rencana magang, tugas akhir atau skripsi, dan... target wisuda. Man, berasa banget udah jadi angkatan tua!


Beruntung saya masih belum dapat pertanyaan, "Kapan lulus?" Thanks to you if you don't have any will to ask that, karena saya masih jauuuh menuju gerbang lulus. Di jurusan saya, mayoritas mahasiswanya baru bisa lulus di atas 4 tahun. Nggak hanya faktor mahasiswanya harus job training dua kali ―satu di media massa cetak, satunya lagi di media massa elektronik―, di semester 7 masih banyak mata kuliah yang harus ditempuh; plus satu mata kuliah wajib. Makanya jangan heran kalo mahasiswa jurusan saya kalo ditanya soal 'kapan lulus' atau 'udah skripsi ya?' di semester 7, responnya nggak akan seperti yang diharapkan oleh penanya, hehehe.

Berhubung saya sekarang mau magang di majalah, otomatis waktunya butuh lebih banyak karena syarat untuk job training cetak di majalah minimal 90 hari kerja. Bisa tiga bulan lebih! Setelah itu baru job training di media elektronik, bisa di stasiun TV atau radio siaran. Beres job training, baru buat laporannya, lalu usmas untuk skripsi, dan tibalah di masa-masa ngerjain skripsi.

Lama? Memang, makanya untuk lulus dalam jangka waktu 4 tahun agak sulit di jurusan saya, seperti yang saya jelaskan di atas. Tapi saya nggak begitu mempermasalahkan, toh saya dari awal kuliah udah niatan mau job training di majalah meskipun waktunya lama ―kalo di koran hanya butuh 45 hari kerja―. Yaah kira-kira tahun depan setelah Agustus saya Insya Allah lulus (AMIN!).

By the way, teman-teman saya di luar kampus kebanyakan udah pada nyusun skripsi. Saya harus legowo sih ngeliat mereka, hahaha. Sempet heran juga saya, kok yang lain udah pada skripsian tapi saya masih sibuk nugas dan liputan sana-sini. But it doesn't matter, kok. Masing-masing kan memang udah punya target tersendiri. Saya sebenarnya bukan pengejar target lulus kudu ngebut; yang penting kuliah saya bener, ilmunya dapet, dan nanti kalo lulus bener-bener udah siap.

Ah, ngomong-ngomong soal kegiatan. Lagi-lagi kegiatan saya di semester ini nggak jauh-jauh dari nugas dan liputan. Too bad, saya kesulitan mengatur jam tidur lagi sampai-sampai harus kecapekan beberapa kali dan nyaris drop. Untung aja ini semester penghabisan, jadi mulai tahun depan begadangnya harus dikurang-kurangin! Waktu liburan di sela-sela kuliah pun akhirnya tersita dengan liputan untuk satu mata kuliah yang butuh liputan jangka lama. Saya juga harus bolak-balik Jatinangor-Jakarta-Jatinangor lho beberapa kali. Sambil liputan sana-sini, tugas mingguannya tetep jalan. Sempet juga sih saya dadakan pergi jalan-jalan, tapi itu worth to do banget untuk ngilangin penat. Alhamdulillah sekarang semuanya udah beres… Besok UAS hari terakhir!

Jelang akhir tahun ini saya mau menikmati Bandung sebelum magang. Masih ada beberapa tempat yang mau saya datangi sebelum beberapa bulan ke depan saya kembali ke Jakarta. Saya juga agak nggak rela sih harus pergi dari Bandung untuk sementara, hahaha. Tapi apa boleh buat, tahun depan juga seenggaknya saya masih bisa bolak-balik ke Bandung dari Jakarta. Satu lagi… Nambahin postingan di blog!! Saya udah punya beberapa hal yang pengen banget saya share di sini, mulai dari perjalanan saya di JPN part 2 sampai hasil pemikiran yang ingin saya tulis di sini. Just wait and see!

Well, maybe that’s enough for today.
Have a very good day, dear readers!
Selamat menjalani pekan UAS dan selamat liburan!
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

The Writer

The Writer

Categories

travel Trip Experiences thought photography Solo Travel Spain Study

Popular Posts

  • Djakartartmosphere (2011)
  • Exploring Bangkok: Day 2
  • A Surprise for Mariva!

Instagram

@pspratiwi



Blog Archive

  • ▼  2019 (1)
    • ▼  October 2019 (1)
      • Accidentally Mixing Spanish & English!
  • ►  2018 (8)
    • ►  December 2018 (2)
    • ►  August 2018 (1)
    • ►  May 2018 (1)
    • ►  February 2018 (1)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (8)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  April 2017 (2)
    • ►  March 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (11)
    • ►  December 2016 (2)
    • ►  July 2016 (1)
    • ►  May 2016 (1)
    • ►  April 2016 (5)
    • ►  January 2016 (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  July 2015 (2)
    • ►  June 2015 (1)
  • ►  2014 (4)
    • ►  December 2014 (3)
    • ►  October 2014 (1)
  • ►  2013 (5)
    • ►  November 2013 (2)
    • ►  March 2013 (1)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (12)
    • ►  December 2012 (1)
    • ►  November 2012 (2)
    • ►  August 2012 (1)
    • ►  May 2012 (4)
    • ►  February 2012 (4)
  • ►  2011 (16)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (1)
    • ►  June 2011 (3)
    • ►  April 2011 (2)
    • ►  March 2011 (2)
  • ►  2010 (4)
    • ►  December 2010 (3)
    • ►  September 2010 (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  December 2009 (1)

Created with by ThemeXpose